Sastra Jawa

Program Digitalisasi Sastra Daerah

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-06, #1666

Katalog:Kajawèn, Balai Pustaka, 1937, #1666
Sambung:
1.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-01, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1496.
2.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-03, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1497.
3.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-04, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1498.
4.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-05, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1499.
5.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-06, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1500.
6.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-07, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1501.
7.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-08, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1502.
8.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-09, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1503.
9.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-10, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1504.
10.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-11, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1505.
11.Kajawèn, Balai Pustaka, 1937-12, #1666. Koran, Majalah dan Jurnal | Kajawèn #1506.

Ôngka 48, Rê Pa, 7 Bakdamulud Ehe 1868, 16 Juni 1937, Taun XII

Kajawèn

[Iklan]

--- 1 ---

S.P.T.B. GUBERNUR JENDRAL BERSABDA

Pada pembukaan sidang Volksraad. Sidang biasa yang pertama tahun 1937.

Hari ini, Selasa 15 Juni 1937, Volksraad mengadakan sidang biasa yang pertama dalam tahun ini. Sidang itu dilangsungkan dengan upacara kebesaran di gedungnya di Hertogspark, dan dibuka oleh S.P.T.B. Gubermur Jendral dengan suatu pedato yang panjang dan penting.

Pembaca tentu bergirang hati, bahwa pedato S.P. Tuan besar yang panjang dan penting itu dapat oleh P.P. disampaikan segenapnya kepada sidang pembaca hari ini juga.

Baik juga diberitakan, bahwa sidang Volksraad itu dipimpin oleh K.R.M.A.A. Kusumo Utoyo sebagai Plv. Voorzitter, karena tuan Voorzitter Mr. Van Helsdingen sedang perlu keluar negeri.

Pedato Tuan Besar itu sebagai di bawah ini:

Tuan Voorzitter.

Nyonya.

Tuan-tuan anggota Volksraad !

Saya merasa mujur pembukaan sidang biasa Volksraad yang pertama ini memberi kesempatan kepada saya untuk berbicara kepada nyonya dan tuan-tuan.

Telah selayaknya benar pikiran saya kembali kepada sa'at saya mulai menerima jabatan saya di hadapan nyonya dan tuan-tuan, sembilan bulan yang lalu. Ketika itu saya dapat menyatakan kegirangan yang dirasakan orang di mana-mana oleh berita pertunangan yang mulia Prinses Juliana dengan Prins Bernhard von Lippe-Biesterfeld yang baru di'umumkan pada ketika itu. Sekarang perkawinan agung itu telah beberapa lama dilangsungkan, tetapi kenang-kenangan kita masih penuh dengan bukti-bukti kegirangan yang lahir dengan sendirinya dan tanda-tanda kegembiraan dan persatuan hati yang amat tepat, yang menyemarakkan perayaan perkawinan itu. Dengan hati yang puas sekarang kita dapat memandang kembali kepada upacara penghormatan yang dilakukan oleh penduduk Hindia-Belanda kepada Prinses dan suaminya.

Dalam pidato saya itu saya mengucapkan pengharapan moga-moga saya banyak mendapat nasihat dan penerangan yang perlu untuk melakukan pekerjaan saya, baik dalam lingkungan pegawai negeri maupun di luar lingkungan pegawai negeri. Dengan perasaan terima kasih saya menerangkan, bahwa harapan saya itu ternyata tiada sia-sia. Untuk menambah pemandangan saya banyak juga artinya saya memperhatikan pertukaran-pertukaran pikiran dalan Volksraad. Disisi itu kunjungan saya kepada gemeente-gemeente pulau Jawa yang terpenting dan daerah-daerah sekitarnya dan kunjungan saya ke pulau Bali dan Lombok memperkenalkan saya dengan penghidupan di kota-kota yang besar dan di luarnya.

Dalam tahun persidangan majelis tuan yang baru lalu ini, keadaan ekonomi Hindia-Belanda sudah kelihatan benar menjadi baik. Jika dahulu itu saya hanya dapat mengucapkan pengharapan moga-moga tibalah waktunya kita dapat agak lapang bernafas, sejak beberapa lama mengharapkan itu telah berlaku bagi beberapa golongan di negeri ini.

Kemajuan ekonomi yang kita persaksikan sekarang ini, ialah akibat berbagai-bagai factor yang bekerja dan pengaruh mempengaruhi. Kemajuan itu dapat kita pandang dari berbagai-bagai jurusan, tetapi perubahan yang terjadi dalam keadaan ekonomi dunia sangat pentingnya, juga bagi negeri ini, sehingga tidaklah kita dapat menganggap kejadian-kejadian di negeri ini - antaranya meninggalkan standaard emas - sebagai factor yang terpenting yang mendatangkan perubahan yang baik pada keadaan ekonomi Hindia-Belanda.

Tetapi meskipun demikian perubahan dasar wang itu bagi Hindia ini ialah suatu kejadian yang besar pengaruhnya. Valuta negeri - meskipun diberi kelonggaran turun naik - sesudah beberapa kali turun naik waktu mula-mula dahulu, segera menjadi tetap pada ukuran 80%. Ketetapan wang kita pada ukurannya yang baru itu serta kepercayaan orang kepadanya, dapatlah memuaskan hati kita.

Oleh karena itu kita telah menyesuaikan diri kita pula kepada ukuran ekonomi yang lebih rendah, dapatlah kira berharap bahwa Hindia-Belanda sepenuh-penuhnya akan dapat merasai perbaikan ekonomi yang sudah lama dinanti-nantikan itu. Initiatief yang dilakukan dengan bijaksana, keberanian yang berdasar pada yang nyata, sangatlah perlu dalam perbaikan ekonomi itu. Masyarakat Hindia jarang kekurangan akan sifat-sifat itu.

Meskipun demikian ada juga perlunya kita bertanya, akan lamakah terus-menerus perubahan keadaan ekonomi dunia demikian itu, benarkah Hindia-Belanda sekarang sudah berdiri dipermulaan kema'muran yang sebenar-benarnya yang akan lama terus-menerus dalam keadaan itu? Kalau kita perhatikan angka-angka dan statistiek sepintas lalu kita pasti akan mengiakan pertanyaan itu, tetapi kalau kita siasati beberapa pasal yang paling penting yang menyebabkan besarnya permintaan orang akan barang-barang dan kenaikan harga yang oleh karena itu, maka agak chawatirlah kita kalau-kalau tidak banyak harapan kesibukan di dunia perusahaan perdagangan dan pelayaran sekarang ini akan lama dan telah semestinya demikian. Perhubungan internasional yang sekarang ini penuh dengan pertentangan, - dan hal itu sekali-kali tidak menggirangkan hati kita - pasti besar pengaruhnya akan keadaan ekonomi; hal itu hendaknya menyuruh kita berhati-hati menimbang keadaan sekarang ini.

Jika saya mengambil beberapa contoh yang memberi pemandangan tentang keadaan kemajuan ekonomi negeri iki waktu sekarang, maka saya tunjukkan ukuran harga barang-barang export rata-rata, yang sejak September 1936 hingga beberapa bulan pertama tahun ini naiknya hampir 50%. Oleh karena itu harga barang-barang import rata-rata lebih kurang naiknya dari harga barang-barang export, maka kedudukan Hindia - Belanda dalam hal pertukaran barang-barang, yang dalam waktu krisis menjadi jelek, sekarang ini lebih baik.

Kemajuan barang keluar itu lebih banyak mendatangkan keuntungan kepada anak negeri di tanah seberang dari pada anak negeri di tanah Jawa. Barang-barang yang maju sekali oleh kebaikan ekonomi pada masa ini, sampai sekarang ialah getah dan copra, kedua-duanya terutama hasil pulau-pulau diluar tanah Jawa dan Madura; buat sementara ini penghasilan getah lebih dimajukan dari pada dibatasi. Di tanah Jawa untuk meluaskan perusahaan memang terbatas, lain dari pada itu pembatasan penghasilan yang masih belum boleh dicabut, terhadap kepada gula, teh dan kina mengalangi mendapat keuntungan yang sepenuhnya dari lakunya barang dan kenaikan harga itu. Di dalam keadaan ini maka buat tanah Jawa - juga oleh karena keperluannya selalu bertambah-tambah - tanaman untuk dimakan supaya berhasil baik penting sekali artinya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hasil itu dalam tahun 1936 keadaannya baik sekali dan juga hasil tahun 1937 buat sementara boleh diduga mendatangkan kegirangan.

Oleh karena usaha akan menambah hasil barang-barang makanan di seluruh kepulauan ini sudah diperluas dan diperdalam, maka dalam hal itu Hindia - Belanda akan berkurang-kurang bergantung pada luar negeri; kalau hasil tanah ada menyenangkan sedikit, maka barang makanan hasil tanaman hanya sedikit saja lagi yang perlu dimasukkan dari negeri luar.

Keadaan makanan anak negeri - peri hal itu selalu dijaga oleh Pemerintah - adalah diperhatikan betul-betul oleh Binnenlandsch-Bestuur, [Binnen...]

--- 2 ---

[...landsch-Bestuur,] Departement Economische Zaken dan Dienst der Volksgezondheid dengan bekerja bersama-sama.

Aturan penghasilan dan aturan pengeluaran untuk keperluan pertanian export yang ada sekarang buat sementara harus berlaku juga, walaupun kedaan sudah lebih baik; aturan gula ternyata baik hasilnya, agaknya lebih baik dari pada waktu depressie; perihal bekerja bersama-sama dengan negeri asing, yang dapat dilangsungkan dengan susah payah, yaitu dalam perusahaan tanaman getah dan teh, kepentingannyapun ternyata juga dalam urusan lain dari pada pembatasan penghasilan.

Perjanjian gula yang diadakan di London baru-baru ini hasilnya tidak dapat tidak, walaupun tidak berlaku sekalian permintaan tanah Jawa, akan lebih menetapkan harga dan lebih meluaskan pasar gula Hindia-Belanda.

Aturan tentang perusahaan kapuk hasilnya adalah menyenangkan. Sekarang sedang diselidiki ada tidaknya hasilnya jika dilakukan juga pekerjaan bersama-sama antara Pemerintah dan orang yang berkepentingan yang semacam itu, untuk beberapa hasil bumi yang lain, yang ada juga bersangkutan langsung dengan kepentingan ra'yat.

Pembatasan karet pada seorang-seorang yang dijalankan pada 1 Januari y.l. artinya menepati janji dan adalah itu buah pekerjaan besar. Tidak dapat tidak kita akan bergirang hati, bahwa wang yang didapat oleh anak negeri daerah-daerah karet oleh karena aturan itu, pada umumnya ada dipergunakan untuk keperluan yang baik. Hasil bia yang luar biasa yang dipungut sebelum itu, didalam berbagai-bagai gewest yang menghasilkan karet sudah banyak dipakai untuk keperluan umum. Sekarang diadakan lagi Centrale Commissie - voorzitternya Directeur van Binnenlandsch-Bestuur dan anggotanya juga wakil-wakil gewest yang di atas itu - gunanya akan memberi pertimbangan untuk memakai ketinggalan wang yang diperoleh dari bia luar biasa itu, untuk daerah-daerah itu.

Onderneming-onderneming sekarang menjadi maju, yaitu setelah bertahun-tahun lamanya mengalami kesukaran yang banyak mengurangkan tenaganya. Akibatnya ialah pekerjaan bertambah banyak yang terbuka.

Kerajinan di tanah Jawa sudah berkembang; terutama hal itu boleh dikatakan tentang kerajinan kecil, yang hampir dimana-mana sudah mendapat pasar kembali dalam negeri, yaitu pasar yang telah hilang dalam masa permulaan krisis; dan lagi telah dapat pula memperoleh pasar baru. Perubahan yang baik itu, adalah salah satu dari asalnya oleh karena kerajinan yang dahulu dikerjakan di rumah sebagai sambilan, sudah berubah menjadi perusahaan kecil. Kwaliteit hasil itu bertambah baik dan upah yang diperoleh dengan pekerjaan itupun bertambah besar.

Untuk mendirikan perusahaan yang besar-besar kelihatan nyata minat orang; peri keadaan perusahaan yang telah ada bertambah baik. Percobaan perusahaan Maskapai Tenun Jawa di Tegal belum lama ini sudah dimulai menjalankannya

Barang-barang hasil kerajinan - terutama hasil kerajinan anak negeri - makin lama makin banyak dikeluarkan dari Jawa ke tanah seberang; tentu saja kemajuan itu tidak boleh dipandang tidak penting bagi kema'muran tanah Jawa.

Dalam masyarakat Bumiputera makin lama makin nyata, orang bertambah suka bekerja sendiri; hal itupun disambut oleh Pemerintah dengan senang hati. Pengharapan Pemerintah, moga-moga hal itu hendaklah menjadi satu tanda bahwa dalam lingkungan itu telah berangsur-angsur kelihatan jalan yang lebih mudah untuk mengusahakan perusahaan sendiri-sendiri atau bersama-sama. Pejabatan yang bersangkutan dengan perusahaan itu selalu bersedia akan memberi penerangan, barang dimana penerangan itu dapat berpaedah.

Sekiranya bagi hasil pada tahun 1937 dapat diperoleh harga yang menyenangkan hati, suatu hal yang diharap-harap dan diusahakan oleh Pemerintah, sekiranya kesempatan buat bekerja selalu bertambah besar jua dan sekiranya, lebih-lebih pekerja yang paling rendah upahnya, yang tawakkal dengan sangat sabar dalam musim crisis menanggungkan kesusahan perusahaan tempat mereka itu bekerja, dapat diberi kesempatan akan menarik keuntungan dari pada hasil perusahaan yang telah mulai jadi baik itu, maka ta' dapat tiada perbedaan kema'muran antara Jawa dan Madura dengan tanah seberang akan sampai pada perbandingan yang patut. Terjadinya yang demikian itu tidak boleh menyebabkan kita lalai akan mencari jalan, yang akan mungkin ditempuh untuk memperbaiki keadaan kema'muran Jawa dan Madura yang tidak tetap itu. Peri keadaan cacah jiwa yang selalu dan dengan cepatnya naik-naik itu, tetaplah menjadi masalah yang banyak seluk-beluknya. Meskipun kolonisasi akan tetap tiada cukup jadi alat untuk menyelesaikan masalah itu, tetapi usaha itu bagi beribu-ribu orang Jawa dan Madura, yang suka meninggalkan tempat kediamannya, membukakan jalan akan mendapat pencaharian baru di tempat lain yang menyenangkan hati. Untuk memajukan daerah yang luas-luas di tanah seberang kolonisasi itupun amat penting pula. Pemerintah bermaksud akan memperluas dan memperbesar kolonisasi di tanah seberang itu dengan sekuat-kuatnya, dengan tiada melampaui batas-batas yang patut, dengan berdasar pada pengalaman yang sudah ternyata betul adanya.

Oleh karena barang keluar bertambah banyak dan permintaan akan barang masuk selalu bertambah pula, maka keadaan pelayaranpun jadi bertambah baik kedudukannya; memang sudah kelihatan kesempatan itu dipergunakan untuk memperbaiki dan memperluas perusahaan itu. Angka-angka jumlah pengangkutan barang dengan kereta api dan tram nyata bertambah-tambah besar juga. Perjalanan di udara dalam negeri inipun senantiasa bertambah maju; dalam tahun yang lalu Tarakan sudah masuk dalam perhubungan yang tetap. Sekarang selalu dipikirkan akan meluaskan perjalanan itu; diharap moga-moga sedikit hari lagi kapal terbang kita turut pula mengadakan perhubungan udara yang tetap dengan Australia.

Tentang perkara bekerja bersama-sama antara Hindia-Belanda dengan Nederland di lapangan ekonomi maka sejak sudah diadakan pertukaran pikiran dalam sidang-besar yang lalu, terutama sudak ditujukan perhatian kepada memperteguh dan menyempurnakan hal itu. Keberatan-keberatan yang timbul pada kedua belah pihak karena kurban-kurban yang mesti diadakan, sudah dapat dihilangkan dalam berbagai-bagai hal; keuntungan yang sama-sama diperoleh kedua belah pihak sudah bertambah besar. Suatu hal yang baru yang dalam hal ini disambut dengan kesukuran, patut disebutkan kesudian negeri Belanda akan mengambil gula dari Jawa tiap-tiap tahun yang tidak sedikit jumlahnya; dengan hal itu maka tercapailah yang sudah bertahun-tahun diharap-harapkan oleh Hindia-Belanda. Hal-hal baru yang mungkin diluaskan dalam perkara bekerja bersama-sama ini rasa-rasanya tidak akan terdapat lagi.

Meskipun perhubungan dunia masih belum lepas dari pada ikatannya. Tetapi Hindia-Belanda sudah beruntung dapat mengusahakan, sehingga tetap banyaknya barang-barangnya yang dikirim ke negeri luaran; yang demikian itu tercapai ialah juga karena politik dagang ke negeri luaran, yang sudah diturut. Dengan senang hati saya sebutkan disini. Bahwa beberapa bulan yang lalu sudah diperoleh persetujuan yang baik dan menyenangkan kedua belah pihak, tentang perhubungan perniagaan antara Hindia-Belanda dan Jepang; bolehlah diharapkan sedikit hari lagi akan ditetapkan perjanjian tentang itu. Yang dituju oleh persemupakatan yang sudah diperbuat itu ialah akan memajukan perhubungan itu dengan mengadakan kemungkinan yang luas untuk turut-memperturutkan kehendak kedua belah pihak.

Perhubungan internasional, yang memaksa Hindia-Belanda menurut politik ekonomi yang sudah dijalankan itu, boleh dikatakan belum ada perubahannya. Rasanya orang akan merasa senang bila dapat melihat kejadian atau mendengarkan ucapan-ucapan, yang menyatakan bahwa sudah ada terbayang-bayang perubahan. Bahwasanya sudah jadi adat bagi Nederland akan turut bekerja bila perlu pada pekerjaan melepaskan ekonomi dari kesukarannya, tidak perlu dibimbingkan lagi, akan tetapi

--- 3 ---

pertanyaan, dapatkah pekerjaan itu dilakukan dimasa yang dekat ini, tidaklah dapat kita jawab sendiri.

Boleh diharapkan, bahwa buat mempertahankan kepentingan kita tidak akan perlu lagi memperluas aturan-aturan, yang sudah dilakukan dalam beberapa tahun yang lalu berhubung dengan memasukkan barang ke dalam negeri ini; aturan-aturan yang sudah ada, akan dijalankan seperti yang sudah-sudah juga dengan cara yang sederhana saja. Karena perubahan ekonomi, maka jadi lebih mudahlah sekarang menjalankan aturan-aturan wang sudah ada itu.

Waktu memenuhi kewajiban, yang sudah dipikul oleh Hindia-Belanda terhadap beberapa negeri, untuk mempertahankan atau meluaskan pengeluaran barang dari negeri sendiri, pada mulanya timbullah beberapa kesukaran; tetapi sekaliannya itu dapatlah diselesaikan; sudah ternyata bahwa memasukkan barang sebanyak yang sudah diizinkan itu rupanya dapat dilakukan dengan memuaskan hati, dengan tidak mendatangkan pengaruh yang terlampau besar atas harga dalam negeri; sudah diadakan berangsur-angsur aturan penjagaan harga yang perlu untuk itu dengan cara yang baik.

Yang lebih terasa keberatannya, ialah waktu harga barang-barang umumnya naik dan standaard mas dilepaskan memaksa kita mengadakan penjagaan, supaya menaikkan harga barang-barang makanan jangan menjadi hal yang dilebih-lebihkan. Aturan yang diadakan untuk keperluan itu adalah berhasil baik. Supaya dapat mencapai harga yang patut itu, maka lain dari pada itu sudah diturunkan pula berbagai-bagai tarief bia barang basuk dan juga opcent-opcentnya. Harga garam yang diturunkan pada waktu yang hampir bersamaan dengan itu, adalah juga maksudnya akan mengentengkan belanja tiap-tiap hari dari sebagian besar penduduk negeri. Oleh karena export mulai menjadi baik, maka jadi mungkin pulalah akan menutup kekurangan penghasilan yang terjadi, karena aturan yang baru disebutkan tadi itu, dengan mengadakan bia export yang extra, 2% besarnya. Aturan itu tidak berlaku pada berbagai-bagai barang yang sesudah depreciatie masih dalam keadaan yang belum baik. Tentang niat, yang tadinya akan mengurangi overgangsbezoldiging dan overgangsloon sebelum 1 Januari 1937 sudah dilepaskan oleh Pemerintah.

Diwaktu yang akan datang harus diingat akan melenyapkan aturan-aturan undang-undang yang dalam waktu yang silam betul mencegah perusahaan-perusahaan menjadi hancur sama sekali, tetapi yang lain dari pada itu telah menahan kemajuan ekonomi. Sampai kemana akan dapat melenyapkannya itu, itu adalah suatu soal yang hanya dapat dijawab berhubung dengan keadaan-keadaan di masa yang akan datang. Kalau tidak nyata perlu atau keuntungan yang terang akan diperoleh, maka pemerintah lebih suka membiarkan tenaga-tenaga itu timbul dengan sekehendaknya.

Perbendaharaan negeri selalu cepat merasakan perubahan-perubahan keadaan ekonomi dan dalam tahun 1936 ia memenuhi harapan yang lebih baik, yang lambat-laun dapat diharapkan dari padanya. Menurut perhitungan sementara seluruh anggaran tahun itu tertutup dengan kelebihan 26.4 milliun rupiah. Tetapi angka ini tidak dapat dipakai begitu saja untuk mempertimbangkan keadaan yang sebenarnya, sebab angka itu dipengaruhi oleh hasil bersih bia luar biasa yang dipungut dari karet anak negeri, sejumlah 36.4 milliun yang mulai 1 Januari 1937 boleh dikatakan dimatikan sama sekali - jumlah itu disediakan untuk anggaran luar biasa - dan dikurangkan pula oleh belanja 2 milliun untuk angkatan perang - dan belanja-belanja untuk memajukan kema'muran, yang dipikul oleh negeri Belanda. Kalau sekalian factor itu kita tiadakan, maka kekurangan dalam seluruh anggaran, dibulatkan, adalah 8 milliun rupiah. Jika diuraikan lebih jauh, maka ternyatalah bahwa angka itu perbedaan antara kekurangan anggaran biasa 19.2 milliun rupiah dengan kelebihan anggaran luar biasa 11.2 milliun rupiah.

Kekurangan seluruh anggaran yang jumlahnya 8 milliun rupiah berarti, bahwa bukan saja mungkin tahun 1936 ditutup dengan tidak menambah utang, tetapi juga bahwa lain dari pada itu utang dapat disusuti lebih dari 13 milliun rupiah, sebab dalam anggaran biasa itu termasuk angsuran utang 21.1 milliun rupiah. Kedua ternyata pula, bahwa dalam lingkungan anggaran biasa dapat tercapai sepenuh-penuhnya keadaan perbendaharaan yang tidak memaksa menambah utang lagi. Oleh sekaliannya ini dapat pulalah lambat laun pimpinan perbendaharaan negeri ditujukan dengan cara yang lebih teratur kepada ukuran-ukuran yang biasa berhubung dengan pendapatan negeri.

Menurut harapan-harapan hingga sekarang, tahun ini akan menetapkan keputusan-keputusan yang didasarkan pada perhitungan tahun 1936. Menurut harapan-harapan itu anggaran biasa akan setimbang - malahan akan dapat ditutup dengan sisa 0.5 miliun rupiah. Sisa itu terdapat sebab untuk tahun 1937 hasil negeri dihitung lebih 51.8 milliun rupiah, sedang belanja negeri yang bersih lebih 10.5 milliun rupiah dari taksiran, sehingga akan mendapat kelebihan 41.5 milliun rupiah. Dalam angka-angka itu telah diingatkan bahwa boleh jadi benar harga barang-barang akan naik dan dihitung juga pengaruh duurtetoeslag, yang telah diberikan dalam tahun ini kepada sebahagiaan besar dari pada pegawai negeri.

Diantara belanja biasa itu terhitung juga 21.8 milliun rupiah angsuran utang tetap. Maka dalam tahun ini akan selesai pulalah tingkat yang kedua dari usaha membuat sehat perbendaharaan negeri, yaitu membayar angsuran utang pula menurut jumlah seperti ditetapkan oleh perjanjian-perjanjian pinjaman yang masih jalan.

Betul anggaran luar biasa akan ditutup dengan kekurangan 15.3 milliun rupiah, tetapi dalam jumlah itu terhitung juga 25.5 milliun rupiah belanja untuk memajukan kema'muran dan untuk angkatan perang, yang dipikul oleh negeri Belanda, sehingga pada anggaran itu sebenarnya diharapkan kelebihan 10.2 milliun rupiah. Baik juga dikatakan dengan chusus disini, bahwa untuk persediaan untung pada perusahaan timah Bangka sudah dikeluarkan menurut perhitungan sementara tahun 1936 4.5 milliun rupiah dan menurut harapan dalam tahun 1937 14.5 milliun rupiah.

Rancangan anggaran 1938 yang dihadapkan kepada nyonya dan tuan-tuan sekarang dalam beberapa hal mengarakan, bahwa keadaan adalah menyenangkan. Diharapkan moga-moga kemajuan yang telah kelihatan dalam perhitungan tahun 1936 dan yang menyebabkan harapan untuk tahun 1937 lebih baik dari taksiran-taksiran mula-mula, akan terus sampai kepada tahun 1938. Taksiran-taksiran untuk tahun itu jauh lebih baik pula, jika dibandingkan dengan harapan untuk tahun 1937. Hal itu bukan tentang kelebihan anggaran biasa, yang, seperti dalam tahun 1937 ditutup dengan bersisa 0.5 milliun rupiah, sesudah untuk angsuran utang tetap sejumlah 22.7 milliun rupiah dapat disediakan sepenuhnya. Perbaikannya itu adalah demikian: anggaran yang setimbang itu diperoleh setelah tambahan belanja yang tidak dapat tidak, sudah ditutup, dan setelah sudah pula dihitung belanja untuk usaha-usaha baru dan belanja untuk meneruskan usaha memperkuat angkatan perang. Lain dari pada itu dapat pula diringankan beberapa pajak umum dan diturunkan beberapa tarip pengangkutan.

Demikianlah, meskipun sedapat-dapatnya diusahakan berhemat dan hal itu masih tetap perlu untuk masa yang akan datang, sudah ternyata bahwa anggaran belanja yang setimbang itu diperoleh bukan dengan jalan meneruskan pengurangan belanja, tetapi oleh taksiran pendapatan negeri lebih tinggi adanya.

Dengan mengecualikan baiknya post untuk afschrijving perusahaan-perusahaan I.B.W. yang dirasa perlu untuk mendapat susunan yang lebih baik, dan yang menaikkan angka-angka kotor, baik sebelah penerimaan, maupun sebelah belanja lebih dari 12 milliun rupiah jika dibandingkan dengan tahun 1937 dapatlah saya menunjukkan tambahan kotor dari taksiran pendapatan

--- 4 ---

negeri yang hampir 83 milliun rupiah. Menurut angka-angka bersih tambahan itu lebih dari 73 milliun rupiah.

Tambahan pendapatan negeri terutama sekali disebabkan oleh karena pendapatan dalam golongan belasting dan perusahaan-perusahaan I.B.W. bertambah; yang achir ini hampir sekaliannya naik pendapatannya.

Bertambahnya kelebihan pendapatan itu Post-. Telegraaf- dan Telefoondienst, sudah jadi alasan bagi Pemerintah akan menurunkan beberapa tarip yang bukan sedikit dan yang untuk tahun 1938 akan 1.2 milliun rupiah jumlahnya. Maksud Pemerintah akan menurunkan tarip itu dalam tahun ini juga.

Diantara pajak-pajak terutama yang menaikkan taksiran-taksiran itu ialah vennootschapsbelasting, bia masuk dan bia keluar dan cukai. Terutama naiknya golongan yang tersebut kemudian ini, yang dapat dipakai sebagai ukuran kekuatan anak negeri berbelanja, sangat menggirangkan hati.

Dibandingkan dengan ini angka-angka taksiran pajak penghasilan dan pajak upah agak kurang; bukan oleh karena pendapatan keduanya itu tidak turut naik pula, tetapi oleh sebab menurut anggaran Pemerintah baik apabila beban-beban itu dikurangkan dan yang demikian itu dalam keadaan seperti sekarang sudah dapat pula dipikul. Dianjurkan untuk mengurangkan jumlah opcenten pajak penghasilan 20% dan untuk menurunkan pajak upah dari 4% menjadi 3%. Pemerintah sengaja memilih kedua pajak itu, supaya mengurangkan beban yang mungkin dilakukan itu, akan dirasakan oleh golongan yang sebesar-besarnya. Porstel-porstel ini berarti mengurangkan pendapatan 7.5 milliun rupiah untuk tahun 1938.

Turunnya pendapatan perusahaan-perusahaan yang bukan I.B.W. jika dibandingkan dengan taun 1937, semata-mata disebabkan oleh aturan yang dijalankan atas garam. Disisi penurunan harga garam yang sudah disebut dalam hubungan yang lain, maka berpengaruh juga perubahan dan pengluasan selanjutnya dari alat penjualan garam serta usaha mengadakan briket garam yang lebih kecil dengan harga regie 1 sen dan 1/2 sen.

Aturan ini menurut anggapan Pemerintah sesungguh-sungguhnya untuk kepentingan anak negeri. Belanja biasa dalam angka-angka bruto (kotor) menunjukkan, diluar bukingspot yang tersebut itu, jumlah kenaikan kira-kira 46 juta rupiah dan dihitung menurut belanja Negeri biasa yang bersih bertambah banyak hampir 37 juta rupiah.

Terutama kenaikan itu karena belanja bala tentera, baik angkatan darat baikpun angkatan laut. Walaupun akan lebih menyenangkan hati Pemerintah kalau sekiranya sebahagian wang itu dapat dipergunakan untuk keperluan yang langsung memajukan kemakmuran anak negeri, tetapi memperbaiki angkatan perang itu yang mesti disusul apa-apa yang sudah terkurang dalam hal itu selama ini, adalah kepentingan yang terutama sekali, sehingga perlu diadakan kurban.

Tak dapat dilalui lagi, bahwa beberapa aturan mesti diadakan dengan cepat untuk menambah kekuatan bala tentera, seperti menambah angkatan udara, mengadakan senjata penangkis musuh dari udara, menambah banyaknya senjata yang bekerja sendiri dan persediaan perang serta melengkapkan pegawai, yang harus sama sejalan dengan sekalian tambahan itu. Lain dari pada itu harus pula dikabarkan, bahwa di Bali sudah diadakan pasukan Prayoda dan baik di Jawa dan Madura baikpun di Tanah Seberang sudah diadakan pula pasukan reserve dari pada bekas-bekas militer.

Menambah kekuatan angkatan laut rupanya dengan menambah banyaknya pegawai militer dan perkakas, pun menghendaki kurban pula; dari pada anggaran belanja akan ternyata kepada Dewan tuan, bahwa menambah banyaknya perkakas itu dianjurkan sesuai dengan rancangan armada 1930. Supaya kapal dan mesin terbang selalu dapat berjaga-jaga di seluruh kepulauan ini demikian juga supaya dilengkapkan suatu tempat pertahanan di sebelah timur kepulauan ini, terutama bagi Pejabatan Penerbangan Marine, hal itupun menghendaki wang pula. Karena kapal perang "de Ruyter" telah sudah, makin bertambah lengkaplah armada. Baru-baru ini sudah ditetapkan benar-benar, bahwa pada angkatan laut Hindia akan diterima bekerja anak-anak kapal bangsa Eropah; 647 anak muda Indo akan mendapat tempat di situ. Aturan baru yang lebih langsung berguna bagi masyarakat anak negeri, terutama mengenai departemen Justitie, Onderwijs en Eeredienst dan Verkeer dan Waterstaat, demikian juga Pejabatan Kesehatan Ra'yat.

Ketika merancangkan anggaran yang akan dibicarakan ini harus diingat beberapa hal, yang belum dapat dikira-kira benar pengaruhnya bagi tahun 1938.

Satu dari pada hal itu ialah, bahwa taksiran belanja untuk pembeli barang-barang dalam beberapa bahagian agaknya akan ternyata nanti belum cukup tingginya, yaitu kalau harga barang-barang itu bertambah mahal juga nanti.

Hal kedua yang belum ada ketetapannya itu, ialah aturan gaji amtenar dan militer. Aturan itu sedang diubah. Sungguhpun pemerintah insaf, bahwa masalah gaji itu teramat mengenai kepentingan amtenarnya dan memandang bahwa gaji itu sekali-sekali tidak mengenai bergrooting semata-mata, tetapi pemerintah tidak dapat melepaskan diri dari kewajibannya, apabila pemerintah memperhatikan berapa beratnya gaji itu harus ditanggung anggaran belanja yaitu kewajiban akan terus mengusahakan kesederhanaan dalam perkara ini. Perubahan yang sedang dikerjakan itu, yang dimaksud bukan untuk sementara saja, melainkan harus bersifat untuk selamanya, menurut pengharapan pemerintah akan selesai dikerjakan sebelum habis tahun ini. Mudah-mudahan perubahan sekali ini menjadi penutup perubahan yang karena terpaksa telah berulang-ulang dilakukan dan yang menyebabkan tidak pastinya syarat-syarat penghidupan amtenar. Dengan senang hati pemerintah sudah memberi kesempatan kepada Commissie van Georganiseer Overleg, akan menyatakan pikirannya tentang porstel yang sedang direncanakan itu. Ketiga belum ada lagi ketetapan tentang keadaan pensiun. Menurut pemikiran Pemerintah, patut jua diichtiarkan supaya pensiun itu disamaratakan menurut patutnya. Sebagaimana telah diuraikan berulang-ulang, Pemerintah memandang perlu supaya ditetapkan kesempatan seperti yang sudah dilakukan, akan memotong pensiun yang telah diberikan menurut patutnya. Oleh sebab berhubung dengan lamanya berlaku undang-undang potongan itu ditentukan dari 2 April sampai 1 Januari 1938, sekarang harus dibicarakan pula perkara itu untuk masa yang akan datang; maka haruslah diingat, bahwa potongan yang dimaksud itu mungkin dihilangkan sama sekali atau sebahagian.

Oleh karena mengingat hal-hal yang belum pasti, yang tersebut itu, maka diadakan dalam anggaran biasa cadangan umum yang 15 juta rupiah besarnya. Oleh karena pembaruan utang dalam bulan Februari tahun ini 150 juta rupiah banyaknya, maka untuk tahun 1938 diperoleh keuntungan 2 juta rupiah dari kesusutan rente.

Anggaran pekerjaan luar biasa kekurangan 20.6 milliun rupiah. Akan tetapi dalam hal itu patut diingat, bahwa ada harapan negeri Belanda akan membayar sebagian besar dari wang yang dikeluarkan dengan jalan luar biasa untuk menguatkan angkatan darat banyaknya 29.4 milliun rupiah.

Wang 11.5 milliun rupiah, yaitu yang dikira kelebihan untung perusahaan timah di Bangka, yang 15 milliun banyaknya, menurut pasal 6 "Aanwijzingsordonnantie" harus dicadangkan dan karena itu dituliskan sebagai penerimaan pada anggaran pekerjaan luar biasa.

Berhubung dengan wang negeri tinggal lagi peri hal yang umum yang akan saya kemukakan, yaitu bahwa rancangan Hindia-Belanda tidak tetap sifatnya oleh keadaan ekonomi yang tidak tetap seperti yang saya maksud tadi, sebab bila barang-barang yang kita keluarkan biarpun hanya beberapa macam saja berubah pasarnya dan harganya, buat wang masuk keadaan itu akibatnya penting sekali.

--- 5 ---

Kebenaran yang terang itu seperti juga kebenaran-kebenaran ini: bahwa utang negeri mendatangkan beban yang berat, bahwa wang untuk pembayarnya masih belum juga lagi setimbang dengan kesusutan kekayaan negeri, aturan membayar pensiun cara sekarang tidak dapat dilanjutkan lama-lama, pegawai-pegai di sana sini mesti ditambah dan sekalian pajak sudah tinggi, menyebabkan - biar sekalipun zaman sudah berubah -, bahwa kebijaksanaan yang dengan pikir tetap perlu adanya terhadap kepada wang masuk dan wang keluar.

Dalam tahun yang lalu keadaan politik adalah menyenangkan pula. Di seluruh kepulaun ini negeri aman dan tertib. Sungguhpun demikian dalam masa itu ada juga diketahui actie yang diam-diam yang bersifat revolutie, yaitu yang tidak boleh dibiarkan menjalar lebih lanjut. Peri hal itu menunjukkan, bahwa Pemerintah mesti terus berjaga-jaga, alat kekuasaannya mesti dipegang teguh dan juga bahwa organisatie yang menjalankannya mesti siap. Kemerdekaan pergerakan tidaklah dialang-alangi, kecuali kalau untuk itu ada alasannya yang nyata.

Dalam kalangan di lingkung pergerakan politik Bumiputera, yaitu yang lebih suka menyingkirkan dirinya sampai sekarang, ada kelihatan ichtiar yang bermaksud hendak membuang sikap itu supaya turut bekerja dalam badan-badan perwakilan umum. Jika sesungguhnya ternyata ada kemauan akan melakukan pekerjaan yang bersifat membangunkan bersama-sama dengan Pemerintah, maka peri hal itu dipandang Pemerintah sebagai keuntungan.

Pemerintah bermaksud akan mendirikan Mahkamat untuk urusan kaum Muslimin pada tanggal 1 Januari 1938. Pekerjaan itu ialah langkah yang baru pada jalan yang sudah ditempuh tahun 1931, yaitu menetapkan " Reglemen pengadilan agama, mengangkat wakil dan reglemen budelkamer Bumiputera di tanah Jawa dan Madura". Oleh karena aturan itu akan adalah sebuah badan yang lebih tinggi tempat membanding putusan raad agama dalam perkara nikah, yaitu yang sudah bertahun-tahun lamanya perlu dirasa orang. Buat memperbaiki pengadilan agama di residentie Borneo Selatan dan Timur, maka ada sepuluh Kadhigerecht yang sedang disiapkan hendak didirikan, demikian juga sebuah Opper-Kadhi-gerecht.

Sesuai dengan pekerjaan yang sudah dilakukan oleh Pemerintah di dalam tahun yang achir ini buat menjaga hukum dan pengadilan untuk bangsa Bumiputera dengan baik, maka pada Raad van Justitie di Betawi dimaksud hendak mengadakan sebuah Kamer lagi yang semata-mata akan memeriksa ponis-ponis sipil landraad. Berhubung dengan maksud hendak menyempurnakan urusan revisie terhadap kepada perkara sipil yang dimaksud di atas itu, maka Pemerintah berpendapat bahwa akan bertambah jaminan pengadilan untuk bangsa Bumiputera akan dilakukan oleh hakim-hakim yang adil betul dalam hukum anak negeri.

Dalam tahun yang lalu diadakan bermacam-macam aturan dalam urusan pengadilan, antara lain-lain aturan berhubungan dengan hak nikah dan burgerlijke stand buat bangsa Bumiputera yang beragama Kristen di tanah Jawa dan Madura, di Minahasa dan dibeberapa pulau-pulau di afdeeling Amboina serta tentang menentukan hak-hak antara hakim biasa dan hakim agama. Tahun ini juga Pemerintah bermaksud akan mengemukakan beberapa aturan hukuman sipil. Di antara aturan itu masuk peri hal mencegah riba, yaitu yang telah aturan-aturannya direncanakan oleh commissie untuk mencegah riba; selanjutnya perubahan aturan mengundurkan pembayaran dan aturan-aturan baru untuk memberi kesempatan supaya dapat persetujuan dengan pemegang-pemegang obligatie - di dalam beberapa hal menurut ketentuan-ketentuan yang dijalankan di negeri Belanda.

Dalam hal pengangguran sudah banyak dan masih terus menerus dikerjakan usaha yang penting-penting, sebagian besar dengan bantuan organisasi partikulir yang sudah berjasa dalam urusan ini, yaitu Centraal Comite voor steun aan Werkloozen dan Indishe Maatschappij voor Individueele Werkverschaffing.

Ongkos-ongkos pekerjaan itu hanya sedikit saja lagi yang ditutup dengan iuran dari orang partikulir. Oleh karena itu maka urusan sosial ini sudah menghendaki kurban yang besar-besar dari negeri, dan diduga, di masa yang akan datang ini masih perlu diasingkan jumlah yang besar untuk keperluan ini. Lain daripada memberi pertolongan yang langsung kepada mereka yang menjadi penganggur karena crisis, yang tidak boleh diserahkan kepada amerzorg (pemeliharaan orang miskin), masih tetap diperlukan oleh Pemerintah akan mengadakan kesempatan bekerja - yaitu menurut anggaran kerja yang sudah diterima dalam tahun 1935. Dengan maksud ini maka dalam tahun yang baru lalu ini wercentrale yang telah ada sudah diperluas dan sudah didirikan yang baru beberapa banyaknya. Untuk kepentingan pemuda yang menganggur, maka sudah diperbanyak pula jumlah cursus-cursus pemuda dan begitu juga diberi kesempatan buat meneruskan dienst militie.

Dengan pendidikan di werkkamp perusahaan tanah diichtiarkan supaya bagi mereka yang ingin mencari jalan penghidupan dengan perusahaan tanah, ada kesempatan yang sebaik-baiknya untuk mencapai maksudnya itu. Begitupun boleh pulalah disebutkan Kolonisatieraad, yang kewajibannya lain dari pada mencampuri hal mempergunakan uang yang disediakan untuk kolonisatie perusahaan tanah itu, juga memberi pimpinan dan penerangan kepada perkumpulan-perkumpulan kolonisatie.

Dengan perasaan terima kasih saya sebut di sini kurban-kurban waktu, kerja dan wang yang dilakukan oleh penduduk-penduduk negeri ini kepada perkumpulan-perkumpulan sosial yang bekerja di negeri ini.

Pada permulan tahun ini Hindia Belanda pertama kali menjadi tuan rumah menerima konferentie, yang diadakan atas anjuran Volkenbond. "Conferentie van Centrale Autoriteiten van de Oostersche landen belast met de bestrijding van den handel in vrouwen en kinderen" itu terlangsung dengan memuaskan.

Telah dimulai pula mengadakan pengawasan teratur tentang upah pada kebun-kebun yang besar di pulau Jawa. Pekerjaan bersama-sama yang didapat selama crisis di lapangan ekonomi antara berbagai-bagai golongan perusahaan perkebunan dan perdagangan dengan Pemerintah, memberi harapan yang baik kepada Pemerintah tentang pekerjaan bersama-sama di lapangan sosial dalam zaman kemakmuran. Aturan-aturan yang luar biasa, yang segan Pemerintah melakukannya bila terpaksa, tidak akan perlu diadakan, apabila harapan itu terkabul.

Keadaan sudah menyatakan, bahwa beberapa aturan-aturan penghematan di kalangan bestuur dan polisi, agak terlampau jauh dari mestinya. Untuk sebahagian, telah dihitung dalam anggaran tahun 1938, bahwa belanja jabatan-jabatan itu akan bertambah berhubung dengan lenyapnya beberapa aturan penghematan itu.

Bertuur dan polisi di Nieuw Guinea, negeri yang hendak dimajukan oleh Pemerintah sedapat-dapatnya, ternyata perlu diperkuat. Untuk membantu pekerjaan bestuur di daerah-daerah itu, maka telah ditetapkan di daerah Vogelkop dan di daerah Mappi pasukan-pasukan bala tentara.

Ketika saya mengunjungi pulau Bali saya mendapat kesempatan menyatakan maksud Pemerintah akan mengadakan zelf-bestuur-zelfbestuur kembali di pulau tersebut.

Perubahan susunan bestuur di pulau Jawa dan Madura terus diselesaikan dengan mengadakan ordonantie-ordonantie penyerahan penjagaan kesehatan rakyat, pengajaran, veeartsenijkundige dienst dan lanbouwvoorlichting. Oleh karena itu, pekerjaan pemerintahan yang diserahkan kepada Propincie, gemeente kota dan Regentschap di pulau-pulau ini menjadi lebih besar. Sama sekali diberikan bantuan kepada gemeenschap yang berdiri sendiri-sendiri itu untuk melakukan pekerjaan itu lebih dari 9.9 milliun rupiah, kepada regentschap saja 7.2 milliun rupiah. Kalau kita pikirkan, bahwa jumlah anggaran belanja biasa sekalian regentschap itu sebelum 1 Januari 1937 ada 9.5 milliun, maka teranglah [te...]

--- 6 ---

[...ranglah] kelihatan betapa pentingnya penyerahan kepada regentschap itu.

Menyelesaikan aturan perhubungan wang antara Negeri dengan resort-resort yang berdiri sendiri amat penting artinya. Menyiapkan perkara itu sedapat-dapatnya hendak dipercepat Pemerintah.

Sebagai akibat dari pada berubahnya keadaan pada wang, yang juga disebabkan oleh depretiatie wang rupiah, maka kebanyakan locate gemeenscappen dapat membaharui utangnya; umumnya bunganya dikurangkan menjadi 4%. Dari sekalian utang itu, yang jumlahnya 75 milliun, sekarang ini sudah dibaharui 60 milliun.

Regeeringscommissaris-regeeringscommissaris untuk meneruskan menyiapkan bestuurshervorming di Tanah Seberang sudah diangkat dan mereka sudah mulai bekerja. Dari rancangan anggaran tahun 1938 dapatlah Dewan tuan melihat, bahwa diusahakan mengadakan gouvernement-gouvernement, yang ditetapkan oleh hervorming itu, pada 1 Juli 1938; pada waktu itu juga akan diadakan dua buah groepsgemeenschap dan untuknyalah belanja-belanja akan dikeluarkan, yang berarti membawa beban baru bagi anggaran negeri. Usul-usul tentang itu akan disampaikan kepada nyonya dan tuan-tuan pada waktunya. Oleh karena Pemerintah tidak dapat menerima beberapa perubahan yang dikemukakan oleh College taun dalam rancangan ordonnantie groepsgemeenschappen, meskipun telah dipertimbangkan dalam-dalam, maka diserahkannya rancangan baru untuk dibicarakan sekali lagi.

Penyelidikan usul-usul Commissie milik tanah bangsa Indo sekarang ini telah jauh, sehingga Pemerintah dapat berharap segera sanggup menetapkan asas pendiriannya.

Perusahaan algemeene Volkscredietbank tetap maju, sesuai dengan keadaan ekonomi yang bertambah baik. Melihat gelagatnya, jumlah wang, yang langsung dipinjamkan kepada orang tani Bumiputera tahun ini banyak akan bertambah berhubung dengan besarnya bahagiabahagian. yang akan dikerjakan oleh bank itu dalam hal memberi kredit untuk melepaskan tanah kepunyaan bangsa Bumiputera dan tanaman-tanamannya dari ikatan utang.

Oleh sebab pekerjaan memperbaiki rumah, sebagai usaha yang sebaik-baiknya untuk mencegah penyakit pest, yang masih mengancam sebahagian dari penduduk pulau Jawa, perlu dilakukan lebih cepat, dan karena hal itu mungkin menurut anggaran 1938, maka dapatlah disediakan untuk maksud itu jumlah yang lebih besar dari pada tahun yang sudah-sudah.

Dalam waktu crisis sudah dijalankan penghematan yang besar-besar pada pengajaran. Beberapa diantara usaha itu kelihatan sekali rupanya sebagai aturan yang diperbuat dalam kesukaran yang amat sangat. Sudah terang bahwa aturan itu diperbuat hanya sebagai usaha buat sementara. Penyusutan pengajaran Mulo adalah masuk bilangan ini. Jumlah murid sekelas-sekelas yang sudah dinaikkan pada sekolah-sekolah tersebut dan penyusutan banyak gurunya - aturan yang di dalam masa crisis itu juga sudah diperkurang keras menjalankannya - tidak kecil bahayanya, yang mendatangkan kemunduran pengajaran. Mengingat bahwa pengajaran Mulo menjadi pusat pengajaran, juga karena sekolah itu gunanya untuk menyediakan murid untuk pelajaran yang lebih tinggi, maka Pemerintah berkehendak akan mencegah kemunduran itu; pada anggaran 1938 sudah diingat akan mengembalikan Mulo itu kepada keadaannya yang sudah-sudah, dibagian-bahagian yang sudah ternyata, disitu penghematan itu sudah terlalu jauh adanya.

Inspectie buat Westersch lager Onderwijs yang sudah disusuti itu perlu sekali diperkuat, jika kita ingin inspectie itu dapat memenuhi kewajibannya, baik terhadap pengajaran rendah Barat, Mulo dan Kweekschool, maupun terhadap pengajaran sekolah partikulir yang di dalam masa crisis itu sangat banyak tambahnya. Pada anggaran 1938 sudah diingat akan menambah beberapa orang inspecteur lagi. Begitu juga dalam masa yang tidak akan lama lagi inspectie Inlandsch Onderwijs perlu diperkuat pula.

Apabila, seperti yang boleh kita harapkan, tetap seperti yang sudah-sudah itu banyaknya orang memasukkan anaknya ke sekolah, satu hal yang menggirangkan - terutama ke-volkschool dan vervolkschool - maka menurut timbangan Pemerintah ta' boleh tidak sekolah itu mesti ditambah jumlahnya. Selanjutnya Pemerintah ada juga berniat akan mempertinggi pengajaran anak negeri.

Sudah diputuskan akan menjalankan asas yang sudah ditetapkan, yaitu menjadikan kelas 6 tentang pengajaran dagang yang ditambahkan kepada berbagai-bagai vervolgschool, jadi sekolah dagang kecil, yang dua tahun lamanya yang maksudnya akan memajukan middenstand anak negeri.

Pun masih terus diperbanyak jumlah kelas 6 yang berpengajaran ilmu perusahaan tanah; 16 kelas macam itu akan dibuka pada cursus yang akan datang ini. Demikian juga sudah diadakan berbagai usaha untuk mengembangkan pengajaran rumah tangga kepada anak negeri.

Untuk keperluan pengajaran umum bagi anak negeri, maka sudah ditempuh suatu jalan baru, yaitu dengan memberi subsidie, sebagai percobaan, kepada satu sekolah Mulo anak negeri yang tiga tahun lamanya akan memakai bahasa anak negeri jadi bahasa pengantar, dan menyambung vervolgschool.

Susunan baru tentang pendidikan volkzonderwijzer, yang dimulai pada 1 Agustus tahun yang lalu, sudah ternyata betul-betul telah memberi hasil yang lebih. 37 cursus yang didirikan oleh partikulir, yang sekarang dijalankan menurut aturan baru itu, dalam tahun sekolah yang akan datang ini akan banyak ditambah jumlahnya.

Oleh karena anak-anak yang hendak masuk sekolah Mulo dan H.B.S. bertambah banyak, maka uang yang disediakan untuk sekolah-sekolah itupun terpaksa juga ditambah.

Meskipun, pelajaran tinggi dapat juga dipertanyakan darajatnya, sekalipun ada crisis, tetapi kita sudah mesti menerima aturan-aturan yang disederhanakan dan beberapa kehendak tiada dapat dipenuhi. Semupakat dengan guru-guru besar akan diselidiki apa yang dapat dikerjakan, supaya dapat bekerja dengan lebih bebas.

Menilik sifatnya dan banyaknya kewajiban yang akan dipikulkan kepada amtenar yang ditentukan untuk menduduki pangkat yang setinggi-tingginya dalam Bestuur Bumiputera, patut benar diadakan kurban yang lebih besar dari pada sekarang untuk pelajaran mereka itu. Sebab itu dalam tahun 1938 sudah ditetapkan akan membuka sebuah Bestuursacademie, untuk menambah pengetahuan amtenar itu, yang lebih tinggi dari pada sekolah Bestuur yang dahulu dan seboleh-bolehnya disesuaikan pada pelajaran di sekolah Hakim Tinggi; tentang maksud itu akan dimasukkan suatu nota perubahan begrooting 1938.

Pemerintah insyaf, bahwa dengan memasukkan begrooting itu masih ada beberapa kehendak yang patut dan pantas, yang belum dipenuhi. Dengan rela hati diakunya, bahwa banyak di dalamnya perkara tanggungan Negeri yang dinyatakan dengan angka-angka yang sederhana - kalau dipandang sendiri-sendirinya - yang seharusnya diberi biaya yang lebih besar. Akan tetapi Pemerintah telah berbuat apa yang dapat dibuatnya, sesuai dengan pendiriannya, bahwa urusan uang mesti sehat dan anggaran (uang keluar masuk) mesti setimbang. Sudah tentu dengan sungguh dan insaf akan tanggungan tentang segala perbuatannya, dipertimbangkannya benar-benar berbagai-bagai kepentingan yang harus dijaganya, satu persatu.

Dalam batas-batas - sayang amat sempit, yang timbul oleh karena terpaksa berhemat - menurut keyakinan saya dan banyak orang yang sepaham dengan saya - terutama haluan Pemerintah harus ditujukan kepada hal menambah kema'muran, memperluas dasar ekonomi ra'yat dan memajukan kecerdasan ra'yat lapisan yang amat rendah. Pokok pencaharian yang bertambah luas, kebudayaan yang berkembang dan bertambah tinggi telah menimbulkan [menim...]

--- 7 ---

[...bulkan] pengharapan yang besar. Sekalian itu perlu sekali untuk perhatian kepada keadaan di luar lingkungan sendiri, yaitu perhatian yang tidak boleh tidak mesti ada pula, supaya badan-badan perwakilan, yang akan ditambah pula bilangannya, bertambah dapat memenuhi kewajiban, yang diserahkan kepadanya untuk memperhatikan keperluan yang penting-penting.

Dalam persidangan pertama dahulu Dewan tuan sudah menetapkan akan memajukan suatu petitie kepada Pemerintah Tinggi dan Staten-Generaal. Isinya demikian juga apa-apa yang berhubung dengan petitie itu, yang sudah dibicarakan dan dituliskan baik di dalam, baikpun di luar Dewan tuan ini, mengenai dasar urusan pemerintahan negeri ini. Di dalamnya ada tersebut soal yang besar-besar sekali akibatnya. Barang siapa hendak membuat pemandangan atas petitie itu dengan baik: dalam satu perkara hendaklah mengakui, bahwa, seperti masyarakat itu sendiri, dalam keadaan susunan pemerintahan yang timbul dari pada masyarakat itu, sudah ada bibit untuk kemajuan dan perubahan itu; dalam perkara lain orang yang menyelidiki petitie itu perlu sekali berhati-hati benar yaitu sesuai dengan kepentingan soal-soal yang ditujunya. Lagi pula ia harus tahu akan keadaan yang sebenar-benarnya, dan karena itu mengakui bahwa syarat yang utama, ialah bahwa susunan pemerintahan itu harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat, yang akan diperintahnya itu.

Dalam musyawarat memperbincangkan petitie itu Pemerintah tiada campur. Sekarang ini pun pemerintah tiada akan menentukan di hadapan umum penghargaannya pada petitie itu. Pemerintah itu dikirim oleh Pemerintah Tinggi kepada pemerintah dengan permintaan, supaya pemerintah memberi penerangan tentang itu. Pemerintah sedia akan memenuhi permintaan itu dengan segera dan sudah menyuruh mempelajari rancangan itu.

Tuan Voorzitter dan Anggota Dewan Ra'yat, sekarang sudah tiba waktunya, ketika perkara umum Negeri ini, yang sangat menarik minat tuan dan saya, akan menghendaki perhatian tuan sepenuh-penuhnya pula tiga bulan lamanya. Rancangan begrooting tahun 1938 sudah tersedia; yang lain-lain akan ditambahkan lagi; sekaliannya menghendaki timbangan Dewan tuan yang luas, pertukaran pikiran dalam lingkungan sendiri, permusyawaratan dengan Pemerintah. Mudah-mudahan pekerjaan tuan dengan memperoleh berkat Yang Mahakuasa berhasillah kiranya dan sampailah maksudnya bagi keperluan Negeri. Dengan ini saya nyatakan, persidangan Dewan Ra'yat telah dibuka.

[Iklan]

--- [0] ---

[Iklan]

--- [737] ---

Ôngka 48, Rê Pa, 7 Bakdamulud Ehe 1868, 16 Juni 1937, Taun XII

Kajawèn

Kawêdalakên sabên dintên Rêbo lan Sabtu

Rêgining Kalawarti punika ing dalêm tigang wulan f 1.50, bayaranipun kasuwun rumiyin, botên kenging langganan kirang saking 3 wulan.

Juru ngarang - Administrasi Bale Pustaka, ing sawingkinging kantor palis, tilpun nomêr 1744 Bêtawi Sèntrêm.

Isinipun: Rawa Pêning - Panitikan Sawung Abênan - Sêsakit Edaning Sêgawon Hondsdolheid - Mangsuli Pitakenan Bab Sêsêbutan - Kawontênan ing Tiongkok - Têpa Palupi - Bab Tiyang Èstri wontên ing Gumintêrad - Kabar Warni-warni - Wêwaosan - Jagading Wanita.

Rawa Pêning

[Grafik]

Rawa Pêning ing antawisipun laladan Salatiga - Bahrawa, ingkang sapunika sampun salong kenging kasabin.

--- 738 ---

Panitikan Sawung Abênan

Sambêtipun Kajawèn nomêr 47.

Sang Aryaprabu lajêng mênyat saking anggènipun jumênêng, badhe kondur rumiyin, wusana byar: jêbul wontên ing pamêlêngan, saha rumaos bilih supêna, ingkang salugunipun cipta sasmitaning dewa, wêwentehan sadaya kawontênanipun, andadosakên suka saha sukuripun.

Lêt sawatawis dintên saking anggènipun supêna, Sang Aryaprabu tindak dhatêng wukir Saptarga, sowan ingkang uwa Sang Bagawan Abiyasa, ngiras martuwi ingkang bok ayu Dèwi Kunthi tuwin ingkang putra Pandhawa. Sadumuginipun ing Saptarga kalêrêsan ingkang bok ayu tuwin ingkang putra Pandhawa sampun sawatawis dintên pinuju sowan têtuwi ingkang eyang sang bagawan, saking ambabad Wanamarta, paringipun ingkang eyang Sang Prabu ing Wiratha, nalika samantên sampun pinêtha kitha, saha sampun kanamakakên Ngamarta.

Sasampunipun Sang Aryaprabu ngaturakên pangabêktinipun ingkang raka Sang Prabu Basudewa saha garwa, tuwin ngaturakên kawontênanipun nagari Mandura dhatêng sang bagawan, lajêng ngaturakên pokalipun Prabu Anom Kôngsadewa, dalah anggènipun lajêng ngêdêgakên kambêngan sawung. Sang Bagawan Abiyasa tuwin para Pandhawa sami ngungun.

Kalêrêsan, kadang Pandhawa ingkang kêkalih sami ngingah sawung, wontên ingkang satungal, wontên ingkang kalih, saha wontên ingkang langkung. Anggènipun ngingah wau namung kadamêl kalangênan nyênêngakên panggalih, botên kangge ngabotohan pados pamênang, nanging sami dipun tilar wontên ing Ngamarta. Ing ngriku Sang Aryaprabu majêng ngandikan bab sawung kalihan ingkang putra Pandhawa, tuwin malèhakên prêlunipun dhatêng ing Saptarga, pancèn ngiras pados sawung.

[Grafik]

Ing ngriku para Pandhawa nyariyosakên kawontênaning sawungipun piyambak-piyambak, saupami dipun pêndhêt grêbanipun, sawungipun satriya Pandhawa sae sadaya, andadosakên sukaning galihipun Sang Aryaprabu. Enggaling cariyos, sasampunipun angsal sawatawis dintên anggènipun wontên ing Saptarga, lajêng kaaturan kampir dhatêng Ngamarta dening ingkang putra Pandhawa, Sang Aryaprabu nêmbadani, ngiras badhe pirsa anggènipun bêbadhe nagari ingkang putra. Sasampunipun sami pamitan sang bagawan lajêng bidhalan.

Botên kacariyos laminipun wontên ing margi, cinêkak sampun dumugi ing bêbadhe nagari Ngamarta, para Pandhawa taksih ngalêmpak wontên ing papan ingkang badhe ingadêgan kadhaton, namung pasanggrahanipun kemawon ingkang piyambak-piyambak. Ing ngriku Sang Aryaprabu lajêng mirsani sawung-sawungipun ingkang putra sadaya, sami sae-sae, mèmpêr bilih [bi...]

--- 739 ---

[...lih] pinunjula gêbag tuwin damêlipun, nanging ingkang dados panujunipun panggalih, namung satunggal, sawungipun ingkang putra Arya Sena. Ulêsipun widokuwali buntu, suku ijêm sêpuh ngêtonggèng, jalu canthèl sisik naga tinrap, inggih punika muyêk kados sisiking ulam, utawi kados kuliting salak, kanamakakên pun bobok. Kajawi dipun kintên tandhingipun kalihan pun momok sagêd pakantuk, kawujudanipun katingal singêr sajak angkêr piyambak. Dhasar criyosipun ingkang gadhah, katatalanipun pancèn andêmênakakên, sukunipun ampuh, awis ingkang kuwawi dipun gêbag, enggalipun pun bobok dipun sambut Sang Aryaprabu, badhe kaêbên kalihan pun momok. Arya Sena nyumanggakakên, nanging sarèhning sawêg asih-asihipun dhatêng pun bobok, dados gadhah panuwun badhe ngêtutakên dhatêng Mandura sasadhèrèk, supados nyumêrêpi tanglêtipun, ngiras sowan têtuwi ingkang uwa Sang Prabu Basudewa. Sang Aryaprabu nêmbadani.

Kocapa Arya Sena ingkang sawêg asih sangêt dhatêng pun bobok, ngraosakên anggènipun badhe dipun bên kalihan sawung Mandura, ingkang sampun kaloka pinunjul sayêktos, galihipun agêng saha bingah sangêt, dening badhe pirsa katoging tètèripun pun bobok, tansah kinuswa-kuswa tuwin kasawang-sawang, sarwi ngunandika: Bênêre kowe rak ya bisa ta: bobok, ngalahake jago Mandura, kang wis kaloka kaluwihane. Diprayitna hlo: besuk, aja sêmbrana. Ngantos wontên ing pasarean saha ngantos ing wanci têngah dalu, Sang Arya Sena dèrèng sagêd sare-sare, ingkang dados panggalihan namung kalangkunganipun pun bobok, saha kawêntaring pinunjulipun sawung Mandura.

[Iklan]

Salêbêtipun wontên pasarean wau, dangu-dangu Sang Arya Sena rumaos pinuju mêdal saking dalêm ing wanci enjing, badhe mirsani pun bobok ingkang kaisis kados padatanipun. Sadumuginipun ing plataran ngajêngan, kagèt sangêt, dening pirsa pun bobok pinanggih sampun pêjah wontên ing salêbêtipun sêngkêran, kêtindhihan wit gurda agêng ambruk, ingkang êsol sajak katêmpuh ing prahara. Arya Sena enggal badhe ambrengkal, kalihan ing batos duka sangêt, asta kumlawe, janggirat jêbul wungu saking sare, saha rumaos bilih supêna, andadosakên bingah saha pangungunipun. Bingahipun, dening namung supêna, pun bobok botên pêjah sayêktos. Badhe kasambêtan.

W.

Sêsorah ing Radhio saking Bale Pustaka.

Benjing dintên Ngahad sontên, tanggal 20 Juni 1937, wanci 1/2 8 dumugi jam 8, Bale Pustaka ngawontênakên sêsorah ing radhio Nirom 2 golflengte 190, ing bab Pantun Mêlayu. Ingkang mêdhar sabda Tuwan Aman Dt. Majoindo.

--- 740 ---

Bab Kasarasan

Sêsakit Edaning Sêgawon Hondsdolheid.

Sambêtipun Kajawèn nomêr 45.

[Grafik]

Swargi Tuwan Dr. Pasteur.

Tiyang ingkang kataman sêsakit edaning sêgawon, salêbêtipun sawatawis minggu kraos sakit ing panggenan ingkang tatu, sirah ngêlu sangêt, lan ing badan sakojur kraos kêmêng, yèn badhe ngombe kraos sêsêg lan sakit sangêt ing gorokan, ngantos ingkang sakit ajrih ngulu idunipun piyambak, mila idu lajêng mêdal saking cangkêm daleweran, ajrih sumêrêp toya, manawi dipun sukani toya ngombe ing gêlas namung kêdah badhe ngombe, sanalika lajêng nratab, badan gumêtêr lan kraos sakit sangêt ing gorokan. Salajêngipun samôngsa ingkang sakit mirêng suwara ingkang sora sawatawis, sumêrêp pêpadhang, mambêt punapa-punapa, èngêt utawi ngraosakên têtêdhan ingkang kêcut, pêdhês, lêgi lan sapanunggilanipun lajêng kumat nratab lan sakit ing gorokan ugi.

Salêbêtipun nandhang sêsakit, tiyang punika bêtanipun jêjêg botên ewah. Wêkasan ingkang sakit kraos botên sagêd anggulawat, nglèntrèh, wêkasan tiwas.

Trêkadhang ingkang sakit namung gumêtêr sakit ing gorokan lajêng tiwas.

Yèn lare ingkang sakit ingkang kathah namung sawatawis jam kemawon sampun tiwas. Tiyang ingkang diwasa kataman sêsakit punika yèn sampun nandhang sêsakitipun salêbêtipun 3-5 dintên kemawon asring lajêng tiwas utawi botên sagêd saras piyambak. Bêgja dene sapunika sampun wontên jampinipun ingkang cêsplêng saèstu, inggih punika jampi vaccin kangge suntikan ingkang sagêd nanggulangi utawi nyêgah thukulipun sêsakit wau. Dene ingkang manggihakên jampi punika panjênênganipun Tuwan Dr. Pasteur (Fransch) dhoktêr ngèlmu pamisah lan bacteriologie, ingkang misuwur asmanipun ing ngalam donya.

Ing taun 1880 wêkdal wontên pagêblug sêsakit edaning sêgawon ing Parijs ingkang anggêgirisi, Dr. Pasteur anggènipun angudi nyinau damêl jampi sêsakit punika kanthi titi lan anjêmbarakên [anjê...]

--- 741 ---

[...mbarakên] wawasan têbaning kawontênanipun sêsakit punika.

Wontên satunggiling tiyang neneman ingkang kacakot sêgawon edan, nalika kataman sêsakitipun, Dr. Pasteur tansah angudi lan nitipriksa lampah-lampah tumônja tuwin tôndha-tandhanipun sêsakit punika, rintên dalu panjênênganipun tansah nênggani lan mriksani ingkang sakit wau dumugi ajalipun.

Dr. Pasteur nyipati lan mirêng sambat utawi polahipun ingkang sakit rêkaos ngêrês sangêt, nyatitèkakên lampah-lampahipun sêsakit punika kanthi titi, têtiyang ingkang nyipati sambatipun ingkang sakit utawi maos buku cathêtanipun Dr. Pasteur wau angêrês-êrêsi utawi ngajrih-ajrihi, mila têtiyang sami kapanujon ing manah ngantos pangraosing manah badhe ambantu yêktos sagêda nanggulangi utawi nyêgah sêsakit punika.

Wiwit taun 1818 anggènipun Dr. Pasteur nyinau lan ngudi kanthi sarèh saha titi saèstu dhatêng kawontênanipun sêsakit wau, botên kèndêl-kèndêl anggènipun damêl cobèn-cobèn ngupadosi jampinipun yèn dèrèng pinanggih. Gangsal taun laminipun têrus-têrusan kemawon, Tuwan Dr. Pasteur anggènipun nyambut damêl ngupadosi jampi suntikan ingkang sagêd mitulungi dhatêng têtiyang ingkang kataman sêsakit edaning sêgawon wau.

Karsaning Pangerang Ingkang Maha Kuwaos, bêgja dene Tuwan Dr. Pasteur ing taun 1886 sagêd manggihakên jampi vaccin ingkang cêsplêng sangêt kangge nanggulangi utawi ngalisakên wisa sêsakit edaning sêgawon wau.

[Iklan]

Jalaran saking pinanggihipun jampi vaccin punika, nagari Parijs lajêng ngêdêgakên Instituut Pasteur ingkang misuwur ing ngalam donya.

Sasampunipun kalih taun kalampahan jampi vaccin dipun trapakên dhatêng ingkang sakit jalaran kacakot sêgawon edan, ingkang suwau radin-radinipun ingkang pêjah 40%, ing taun 1888 ingkang pêjah namung 1.3%, samantên punika bokmanawi dalasan ingkang sakit sampun kasèp botên kabujêng dipun suntik vaccin wau. Upami ingkang sakit punika sadaya sagêd kasuntik jampi vaccin wau sanalika (botên kasèp) ingkang pêjah bokmanawi inggih 0.

Salajêngipun ing pundi-pundi nagari kawontênakên Instituut Pasteur, ugi ing ngriki rumiyin wontên ing Bêtawi, samangke kapindhah wontên ing Bandhung. Badhe kasambêtan.

R. Sumadirja, Ind. Arts Sêmarang.

--- 742 ---

Mangsuli Pitakèn Bab Sêsêbutan

Sambêtipun Kajawèn nomêr 47.

Nitik kawontênan-kawontênan ingkang makatên punika, kados botên kalèntu gagapan kula, yèn karsaning pamarintah inggih anglênggahi wêwaton: sing wis diêpèk "karêbèn didarbèk".

Yèn lêrês makatên, kenging katêtêpakên: sadaya tiyang ingkang sampun lair sadèrèngipun tanggal 1 Juli 1937, môngka miturut lêlurining laladan padununganipun wênang ngangge sêsêbutan trahing ngawirya atas turunan pancêr èstri, inggih têtêp wênang ngangge sêsêbutan punika. Botên praduli punapa nyêpêng utawi botên nyêpêng piagêm, pikêkah, punapadene kêkancingan saking sintêna ugi.

Awit piagêm enz. makatên punika botên dados witing wêwênang ngangge sêsêbutan, nanging namung dados tôndha yêkti, botên beda pêthuk (kwitansi) punika dados tôndha yêktining pambayaran.

Ingkang dados witing wêwênang ngangge sêsêbutan punika kalih warni: turunan utawi ganjaran.

Yèn witing wêwênang turunan, wêwênang wau kabêkta kalaning lair, kenging kula wastani: "sêpuh sêbutan tinimbang nama", awit lare punika angsalipun nama sok mawi ngêntosi pupak pusêr barang, nanging sêsêbutanipun sampun ambêkta piyambak, sanadyan tiyang sêpuhipun utawi awakipun piyambak botên sagêd ngewah-ewahi.

Kosok wangsulipun: tiyang ingkang kawawratakên lan kalairakên sasampuning tanggal 1 Juli 1937 punika sampun botên wênang ngangge sêsêbutan darahing ngawirya atas turunan pancêr èstri, ingkang botên cocok kalihan pranatan enggal punika. Ingkang têksih dados pitakèn:

Yèn sampun kawawratakên sadèrèngipun tanggal 1 Juli 1937, nanging kalairakên sasampunipun titimôngsa punika kadospundi?

Punika pakèwêd anggèn kula badhe mangsuli. Wangsulan wau gumantung dhatêng wangsulaning pitakèn: lare ingkang têksih wontên ing wawratan punika sampun jumênêng tiyang punapa dèrèng, têgêsipun: sampun sagêd andarbe hak (wêwênang) punapa dèrèng.

Pitakèn punika mathukipun pancèn kasoalakên dhatêng para undhagi hukum. Nanging sarèhne sampun kalajêng muncul saking kalam, kaparênga têtêp dados rêmbag sawatawis ing ngriki.

Wontên kupiya sawatawis ingkang ambuktèkakên, yèn lare ingkang têksih dipun wawratakên punika sampun sagêd gadhah hak, dados sampun lênggah tiyang, jêr sanèsipun tiyang botên wontên ingkang sagêd gadhah hak lan kuwajiban§ Rechtspersoon punika têgêsipun: tiyang tumraping hukum. Pakêmpalan ingkang dipun anggêp rechtspersoon punika pakêmpalan ingkang tumraping hukum kaanggêp jumênêng tiyang, têgêsipun: gadhah ngamal lan kuwajiban piyambak. Upami gadhah sambutan, môngka ngamalipun botên sumbut kangge nyauri sambutanipun, punika pangurusipun botên kuwajiban anômboki. Kosok wangsulipun pakêmpalan ingkang dede rechtspersoon, yèn gadhah sambutan ingkang kajibah pangurusipun ingkang rêmbagan, pakêmpalanipun "dede tiyang", botên gadhah wawênang lan kuwajiban.

1. Kula manggih putusan rad Agami Purwarêja tanggal 26 Mèi 1936, ingkang nêtêpakên: lare ingkang têksih wontên ing wawratan kapetang dados [da...]

--- 743 ---

[...dos] warising bapanipun ingkang sampun pêjah. Dados, wawratan = tiyang.

2. Ing dhusun Sidanêgara, dhistrik lan Kabupatèn Cilacap, wontên tiyang pêgatan, ingkang jalêr nyukakakên sadaya barang gana-gini dhatêng ingkang èstri, cariyosipun: kanggo pangan anakmu sapihan lan wêtêngan kuwi. Dados, wawratan = tiyang.

3. Ing dhusun Madurêtna, Dhistrik Sapuran Kabupatèn Wanasaba, wontên tiyang badhe minggah haji wêling dhatêng anak semahipun: Yèn aku mati sajrone lunga haji barangku wujud sawah lan pakarangan iki wènèhna anakku wadon si anu lan anakku kang isih ana ing wêtêngan iki. Dados, wawratan = tiyang.

4. Ing pundi-pundi kalimrah yèn wontên tiyang èstri lêgan, môngka wawrat, punika lurah saandhahanipun ngupadosi bapaning wawratan wau kapurih ningkah biyungipun, supados: larenipun lair rêsik (botên "kowar" utawi "jadah" benjing sagêd angsal tilaraning bapanipun utawi yèn èstri yèn imah-imah sagêd têrang sintên walinipun, punika ugi mratandhani: wawratan = tiyang.

Yèn nitik kawontênan ingkang makatên punika, saking pamanggih kula: lare ingkang sampun kawawratakên sadèrènging tanggal 1 Juli 1937, lan biyungipun gadhah sêsêbutan radèn, punika inggih kawênangakên gadhah sêsêbutan radèn atas turunan saking biyung awit anggène jumênêng tiyang, sampun sadèrènging tumurunipun pancêr èstri kasuwak (1 Juli 1937). Dados kala samantên sampun anggadhahi wêwênang kasêbat : "radèn".

Kados sampun cêkap kuwajiban kula ngaturi wangsulan sang juru patanya.

[Iklan]

V.

Sarèhne rêmbag punika sampun kalajêng "ngandhar-andhar angêndhukur§ Cuplikan saking Wedhatama. lan sagêd ugi wontên ingkang mênggalih: "kandhane nora kaprah",§ Cuplikan saking Wedhatama. jênang sela, apuranta, pinarêngna saya nglantrah anggèn kula anêrusakên ngrêmbag nyalonèhipun pranatan enggal punika. Badhe kasambêtan.

Kandhiyur.

--- 744 ---

Pawartos Sanès Praja

Kawontênan ing Tiongkok.

Manawi nitik lêlampahan ing Tiongkok, katingal cêtha bilih Tiongkok punika satunggiling nagari ingkang botên nate têntrêm, tuwuhing pasulayan, ingkang salugunipun pêrang, botên wontên kèndêl-kèndêlipun. Gênging kapitunan punapadene karisakanipun, kenging dipun wastani tanpa petang tuwin tanpa watêsan. Saupami Tiongkok punika sanès nagari agêng tuwin santosa, tamtu sampun rêmuk.

[Grafik]

Sawangan ing pucak rêdi nagari Hongkong.

Nanging kosokwangsulipun, sabab-sabab ingkang tuwuh ing Tiongkok punika malah dados panggugah, pinanggihipun sarwa nyêngkakakên dhatêng kamajêngan, inggih bab punapa kemawon, upaminipun bab kaprajuritan, inggih lajêng sagêd amapaki kados kêkiyataning mêngsahipun, awit manawi botên makatên, nama botên tandhing. Tumrap lampah padagangan pinanggih saya majêng, dening tansah kêdhêsêg dening dayanipun sanès. Cêkakipun tumrap èwêd pakèwêd ingkang dhumawah ing Tiongkok, ugi pinanggih prayoginipun.

Ewah gingsiring kawontênan ing Tiongkok punika pancèn sampun rumiyin mila, tansah ngawontênakên golongan ingkang prêlu pados panguwaos, inggih apados daya. Inggih jalaran ingkang kados makatên punika ingkang andadosakên gampiling lêbêtipun daya saking jawi.

Dangu-dangu kasantosan ingkang nama yêktos, pinanggih wontên ing golongan ingkang dipun pangajêngi dening Jendral Chiang Kai Shek. Adêging paprentahan punika kala ing taun 1928, madêg wontên ing Nanking. Sarêng sampun têtela kêkiyatanipun, panguwaos wau saya dipun jêmbarakên, awit inggih tindaking golongan punika ingkang sagêd nocogi kados dhêdhasar ancasipun suwargi Dr. Sun Yat Sen.

Ing ngriku lajêng kathah ewah-ewahan, pundi ingkang botên prayogi dipun santuni, nyantosakakên pundi ingkang kirang santosa, ingkang badhe lèrèg dados kaluhuraning praja. Kaministêraning golongan punika madêg abêbadan, ministêr prakawis sajawining praja, wadya dharatan, wadya lautan, babagan arta praja, panggaotan, pangajaran, tuwin sanès-sanèsipun.

Adêging paprentahan punika saya agêng tuwin saya sumarambah, angkahipun sampun ngantos wontên golongan kabangsan ingkang botên malêbêt dhatêng

--- 745 ---

golongan ngriku. Sabotên-botênipun, manawi sagêd kalampahan anggolong dados satunggal, tamtu badhe damêl ulaping sanès.

Manawi dipun timbang kalihan kawontênan ingkang sampun, kenging dipun wastani kamajênganipun KiongkokTiongkok. sampun kathah sangêt, ngungkuli tindaking para linangkung ingkang sampun sami ngawontênakên tatanan, tumindakipun têtêp namung sarwa damêl lêganipun ingkang dipun rèh, sawarnining tindak ingkang rumiyin kêsilêp jalaran saking wontêning ura-uru praja, ing sapunika sampun sagêd tumindak malih kados ing kalaning môngsa têntrêm.

Kados sampun umum bilih kawontênanipun ing Tiongkok punika tamtu anggayut dhatêng Jêpan, mila inggih prêlu kaandharakên. Tumrapipun Jêpan, sarêng nyumêrêpi grêgêtipun Tiongkok kados makatên punika lajêng ambudidaya murih sagêd manggih margi sakeca, ing ngriku lajêng katingal sêsulakipun bilih Jêpan badhe mêmitran kalihan Inggris. Tindakipun Jêpan ingkang kados makatên punika kados wontên raosipun nyujanakakên manawi Inggris ngantos mêmitran kalihan Tiongkok. Nanging manawi kalampahan mêmitran piyambak, botên badhe nyamarakên malih. Saha manawi kalampahan makatên, Jêpan taksih sagêd anggrêtak Tiongkok.

Nanging kosokwangsulipun tumrap Tiongkok, ing sapunika botên kenging dipun rèmèhakên, pamawasipun Tiongkok dhatêng jajahan saya pramana, ing sapunika nyantosani pajagèn ing sisih lèr, prêlu kangge anjagi lêbêting sarêm pêtêng. Ing bab punika tumrapipun Jêpan katingal botên kêdugi, amargi amastani Tiongkok badhe ngatingalakên panguwaosipun wontên ing Tiongkok lèr. Dene Tiongkok, dipun saruwe ingkang kados makatên punika amangsuli, bilih kabêtahan punika kabêtahanipun Tiongkok piyambaK, tumraping tiyang ing jawi botên prêlu gêgayutan.

[Grafik]

Tandhon toya ing tanah parêdèn ing Hongkong.

Tamtu kemawon lêlampahan ingkang kados makatên punika dados sêsungut botên prayogi. Saya malih tumraping nagari kêkalih wau ingkang sampun dhêdhasar sêsêngitan, tamtu badhe gampil dadosipun pasulayan malih.

Bab Buku

Redhaksi Kajawèn sampun nampèni Woordenboek Koenen-Endepols saking J.B. Wolters Scottweg 5 Batavia-C.

Woordenboek punika miturut tatanan kasusastran enggal, nyêkapi kabêtahaning para ngudi babagan basa Walandi. Rêgi f 5.-.

Redhaksi Kajawèn ngaturakên panuwun.

Lan ugi sampun nampèni sêrat Sabda-Tama jilid I saking Tuwan Wiryakarsana, ing Sraya pos Sumbêrêja N.I.S.

Buku wau aksara latin, isi wulang sae sarwa prasaja, mawi sêkar, gampil dipun mangrêtosi ing lare. Rêginipun 1 iji f 0.08, 25 iji f 1.30, 50 iji f 2.20, 100 iji f 4.-.

Buku punika Bale Pustaka botên sade.

Redhaksi Kajawèn ngaturakên panuwun.

--- 746 ---

Raos Jawi

Têpa Palupi.

Sambêtipun Kajawèn nomêr 45.

[Sinom]

dadi cêtha lêlabuhan / kang utama dèn trêsnani / watak ala sinirikan / kang amarga padha uning / manawa ambêg juti / sanadyana katon luhur / kèh janma padha ulap / katon wêdi angajèni / wêkasane wis tartamtu kasangsaya //

lir Sang Prabu Dasamuka / lan Sang Prabu Kurupati / dene janma ambêg tapa / nadyan tansah manggung kingkin / kèh janma tan ngajèni / sru mêmêlas yèn dinulu / ananging saya lawas / kotamane mêlok kèksi / andayani saindênging jagad raya //

lir Sang Prabu Ramabadra / lan garwa Dyah Sinta Dèwi / ari Dyan Arya Laksmana / Puntadewa Narapati / Sang Sena Dyan Prêmadi / Pintèn Tangsèn kabèh iku / tan kurang nandhang tikbra / awit saka mêsu budi / sêtya budya mêmayu hayuning jagad //

nadyan jroning kasangsaya / datan sungkan mitulungi / sagung titah kang sangsara / praptèng lena diandhêmi / tan nêdya tindak silib / dipilaur ajur mumur / datansah ngrekadaya / lan tumandang mrih basuki / sruning brata kataman wahyu dyatmika //

jaman mangkya akèh janma / kang kawilang wêgig-wêgig / êmbuh wêgig bab kadonyan / iya iku kawruh lair / lan wêgig kawruh batin / yèku kawruh badan alus / ananging kadiparan / kaanane jaman iki / kana kene kang kapyarsa mung pasambat //

rêkasane ngupaboga / kakisruhan saya dadi / iru-ara saya ngrêbda / kang akarya kêkês miris / kang iku yèn tiniti / klawan gêlêm analusur / kang kongsi bangkit wikan / wêwadine jaman iki / pêpathokan kintaka anggitan kuna //

kang ingaku wong sajagad / bênêre kang pustakadi / Injil Torèt Jabur Kuran / akanthi têpa palupi / kalamun wus mangrêti / gya jinangkah ywa pakewuh / kalawan sêtya budya / baya datan lawas anis / kang mêmala kang akarya kêkêsing tyas //

kang kapyarsa mungwing karna / pangalême datan wigih / marang para ahli budya / kang isih lan kang wis swargi / kapengin sugih singgih / nanging datan gêlêm niru / lêlakon kang utama / kang mangkono iku dadi / bêbasane angalêm lêgining gula //

pangalêm kang tanpa tandang / iku datan mikolèhi / aywa manèh ngalêm janma / kang kalumrah ing saiki / sanadyan ngalêm nabi / direwangi kumaruwuk / ngalêma Prabu Krêsna / yèn tan niru tiwas ail / masa dadak bisaa antuk nugraha //

jêr iku wus padha swarga / karodene para nabi / datan butuh alêmbana / datan butuh dipêpuji / wong lagya nandhang kingkin / sêsambata kongsi ngulung / kalamun datan sotah / mêmarèni cacad kang wis / lan tumandang kang miturut paugêran //

datan bakal bangkit wudhar / malah saya anêmêni / marma para ngarah bagya / êmbuh lair êmbuh batin / aywa tinggal palupi / lan bêbaku kang tartamtu / tarlèn pun juru gubah / mintaksama sagung sisip / kanthi salam taklim Ki Darmaprawira //

Kêpanjèn-Malang.

--- 747 ---

Rêmbagipun Garèng + Petruk

Bab Tiyang Èstri wontên ing Gumintê Rad

VI

Garèng : Mêngko sik, Truk, sadurunge ambanjurake rêmbugane lagi anu kae, aku arêp takon marang jênêng sira, yayi - wayah, le ngomong nganti kaya piyayi - jarene sesuk êmbèn iki, dina Jumuwah, kowe arêp lunga mênyang: Yoja, Sala, Mêdiun, Kêdhiri, nglamar ndara, olèh para nyai...

Petruk : Wiyah, takon iya takon, nanging omonge ambok aja nglantur mêngkono. Mula iya nyata, yèn ora ana alangan, dina Jumuwah ngarêp iki aku arêp dibêstèlake kanthi prangko, nyang Yoja, Sala, Mêdiun, lan Kêdhiri prêlu dikon nonton kêpriye kaanane wong-wong sing arêp padha pindhah nyang tanah sabrang. Ing sarèhne lungaku iki didhèrèkake - e, nas, nganti lali kawine - andhèrèk para panggêdhe, kanthi mrêbês mêlêm, lan kaya dirêmêt-rêmêta atiku, aku kapêksa kudu ninggal adhimu, Makne Kamprèt, ana ing Batawi.

Garèng : Kowe kuwi rumasamu ngomong karo bocah cilik apa kêpriye, lumrahe iya kaya ngono kuwi sing dadi parikane wong lanang, nèk dikira bakal krungu utawa kawêruhan sing wadon, anggone ngrêsula anggarang gantung, mêngkene upamane: O Allah, bune, kaya ngene abote uwong kudu anglakoni ayahaning nagara, nganti kapêksa aku kudu pisah nyang kowe, rasaning atiku kaya dirêmêt-rêmêt, prasaksat ninggal bocah ana ing pinggir sumur. Malah bokmanawa mripate nganggo ngêcêmbong barang, nanging lagi bae mêtu lawang, apa manèh yèn nganti doh kana-doh kene, iya banjur andadak aksi, le mlaku nganggo ngubêng-ubêngake têkêne, lumrahe malah karo singsat-singsot: sit su-wit, sit sit suwit suwit. Mulane bab iki kowe ora susah anggêdobrol, aku wis ngrêti gêndhingane. Ing besuk bae, aja lali olèh-olèhe. Saikine padha ambanjurake rêmbugane dhisik sing nganti katam. Wis mara banjurna katêranganamu anggonmu mupakat ana kaum wanita dadi warga gumintê rad.

Petruk : Kang Garèng, aku prêcaya, yèn para warga gumintê rad sing saiki kiyi, pancèn bangsane wong pintêr-pintêr, bôngsa jamhur-jamhur, brêgas-brêgas, gagah-gagah. Umume: para sing ora tau ing dalême kêndhile mêngkurêb, mêngkono uga iya dudu bangsane sing agêm-agêmane

--- [748] ---

mlêbu-mêtu anggone ngèngèr nyang pak gêdhe. Cêkak aos, para sing jêmpolan têmênan.

Garèng : Saupama aku dadi warga gumintê rad, sanalika Petruk mêsthi tak prêsèn: sêbenggol. Wayah, anggone ngalêmbana kuwi têka mantêp têmên.

Petruk : Lo, aku ngomong têmênan, Kang Garèng, ora nêdya ngolam-ngalêm. Mula iya nyata, umume para warga gumintê rad, sing saiki kiyi, bôngsa jêmpolan. Dalême sing akèh-akèh iya brêgas-brêgas, aja manèh nganti rusak, bocor sêthithik bae, iya ora, Kang Garèng, tur iya mangku dalan gêdhe, sing aspalan, kathik gêmpi kae.

Garèng : Ora, Truk, wah, pikiranaku repot, anggonmu ngalêm ana kok têrus andalinjing mangkono. Mungguh karêpmu bae kêpriye.

Petruk : Wong dalême brêgas, katik ora bocor babar pisan, mêsthine iya ora tau ngraosake susahe yèn omah kang diênggoni kuwi pating gêmblèh kathik bocor kabèh, kang kapêksa kudu enggal-enggal didandani. Bêngi-bêngi lagi kêpenak-kêpenake turu, kapêksa kudu oyang-oyong ngalih ênggon, sabab kêtrocohan. Ngalih ênggon sing ora bocor, angine: kula nuwun, padha mlêbu kabèh. Umume para warga gumintê rad, sabab saka brêgas-brêgas mau, kaanan sing kaya ngono kuwi, sajêge ora tau ngalami lan iya ora tau ngrasakake. Mulane yèn ing wusana ing gumintê nêdya nganakake pranatan tumrap wong kang arêp yasa utawa dandan-dandan omah, mêngkene, mêngkana, mêngkono, iya banjur: asese, alias mupakat.

Garèng : Rak iya apik, ta, Truk, jênêngane bae pranatan, têgêse: kaanane ing kono bakal diatur, ditata, aja nganti adêge omah pating bêsasik, aja nganti jumblêng cêdhak sumur, nganti banyu ombèn olèh sarining têlèke... Mas Jaya.

[Grafik]

Petruk : Lo, dianakake pranatan kuwi pancèn iya apik bangêt, agawe bêcik, saras, lan sapadhane, anggêre bae aja andawakake rasaning panalôngsa wong sing lagi butuh. Kaya ta: wong arêp gawe utawa dandan-dandan omah, kuwi pancèn butuh bangêt, supaya omahe kêpenak, rapêt, ora bocor, lan sapiturute, banjur: clorot, ngaturi layang nyang gumintê, prêlu nyuwun palilah ngêdêgake omah utawa andandani omahe.

--- [749] ---

Lo, kuwi mudhune layang idin, nèk dipikir iya ora suwe, wong iya mung lêt... sêsasi manèh. Mara, apa iki ora andêdawa rasa panlôngsa le omahe bocor, utawa pating gêmblèh mau, nèk arêp yasa omah, iya nganti bosên anggone anggambarake omahe: mêngkene, mêngkono.

Garèng : Kowe kuwi kok anèh, Truk, Truk, wong iya dipranata, kabèh-kabèh iya nganggo pranatan, mudhune layang idin saka gumintê nganti lêt sêsasi, bokmanawa têkan sêtêngah taun barang, sabab wong nganggo pranatan, Truk, mulane sêtatsiune iya pirang-pirang. Kaya ta: layang panuwunan mau, mêsthine nganggo nginêp nyang kantor pos barang, esuke disowanake nyang panggêdhe kang duwe kuwajiban. Panggêdhe iki bokmanawa lagi bêgandêring, utawa lagi turne utawa lagi... ora kobêr, kang anjalari layang mau mogok ana ing kono nganti esuke manèh. Sabanjure bokmanawa banjur dipasrahake juru tulis kang diwajibake nglêbokake nyang buku rêgistêr upamane, dumadakan juru tulise lagi prêlop, si layang banjur ngorok manèh ana ing mejane kono, êmbuh pirang dina manèh, sauwise dilêbokake ing buku, dipasrahake nyang opsihtêr apa iya insêpèktur sing wajib mriksa panggonan sing arêp di êdêgi omah, utawa mriksa omah sing arêp didandani, mêsthine opsihtêr utawa insêpèktur iki pêgaweane iya sathekruk, ora bakal yèn tumuli banjur nandangi bae, mêsthine iya nganggo muni: nanti dhulu, bêlum adhah tempo. Nantine mau bokmanawa iya ana têlu utawa patang dina manèh, yèn wis dipriksa, saupama wis ditimbang: bêcik, kiraku iya ora banjur mak: gluthêk, kêna digarap bae, nanging iya nganggo mubêng-mubêng manèh. Dadi mungguhing panêmuku, mêdhune layang idin nganti lêt sêsasi barang kuwi, rak iya dudu salahe para lid gumintê rad.

Petruk : Dudu, iki salahe pranatan. Kahanan sing kaya ngene iki para lid gumintê rad mêsthine iya padha uninga, nanging sarèhne ora tau ngalami lan ora tau ngrasakake susahe omah kang bocor lan pating gêmblèh, mêsthine panggalihane iya mung: têlung dinaa, sêsasia rak ora ana bedane. Nanging yèn wis tau ngrasakake rasane, tak tanggung, Truk, mêsthi ora bakal mêtune layang idin gêmintê diinthit-inthit kaya saiki kiyi.

Garèng : Banjur iki sambunge kanggo saupama wong wadon sing dadi lid gumintê rad apa, Truk. Sabab sanadyan wanita, sing kêpilih dadi lid gumintê rad, ora wurung mêsthine iya para wanita sing gagah-gagah, sing jêmpolan, iya sing omahe apik-apik, ora pating glêmblèh, lan ora bocor...

Petruk : Ewasamono mêksa ana kacèke, Kang Garèng, sabab wanita kuwi umume akèh anggone nyang omah, ora kaya kaum priya, nèk awan nyang kantor, yèn bêngi bokmanawa nyang... kamar bolah. Wong sing ajêg nyang omah, iki bisa ngrasakake kanthi têmên-têmên, kêpriye rasane yèn omahe bocor, jubine jêmblong, pagêre rayapên, lan sapanunggalane.

--- 750 ---

KABAR WARNI-WARNI

Pêthikan saking Sêrat-sêrat Kabar Sanès

TANAH NGRIKI

Sumatra Bin Poh kenging brangus pers malih. Kawartosakên, sêrat kabar Tionghoa ing Medan "Sumatra Bin Poh" kenging brangus pers ingkang kaping kalih. Lajêng dipun awisi botên kenging ngêdalakên sêrat kabar wau ing salêbêtipun kawan wêlas dintên.

[Grafik]

Post gêgana. Inginggil punika gambaripun post gêgana "Specht" K.L.M. ingkang sapisanan anglampahakên dienst post saking nagari Walandi dhatêng tanah ngriki. Dumugi station gêgana ing Cililitan kathah pangagêng nagari ingkang methukakên.

Chr. Eur. Kweekschool en Salemba A.M.S. afd. B. Lulus examen A.M.S. wêkasan golongan kalih, N.R. Ahadiah, Amru Bahwie, Kwee Tjay Wan, Liem Koen Seng, W. Ch. I. Singal, M. Suyud, F.J. Situmorang, T. Banan tuwin M.J. Karamoy. Lulus golongan tiga, Kwee Poo Lien, E.A. Latuaean, Ong Eng Pien, S. Purwadi, L.K. Bohang, Lo Tek Sui, Tan Goan Tjoan, R.O. Soediono tuwin nonah Rr. Sêtiawati.

Inggah-inggahan. Kawrat kêkancingan saking Gupêrnur Jawi Têngah, Wasi Yuwono, Aib. ingkang gumadhuh Patih ing Blora, Paresidenan Japara - Rêmbang, dados tijd. wd. mantri kabupatèn Purworêjo, paresidenan Kêdu. R. Sukarso Mangunsudirjo, asistèn wêdana Ulujami, Distrik Comal, Kabupatèn Pamalang, Paresidenan Pêkalongan, kapindhah dhatêng Paresidenan Sêmarang. R. Suyudi Wiryokusumo, asistèn wêdana Jambu, Distrik Ambarawa, kabupatèn tuwin Paresidenan Sêmarang, kapindhah dhatêng Paresidenan Pêkalongan.

Tamu tuwan pabrik sêpatu saking Australie. Sampun sawatawis dintên Tuwan Mr. Mac Avoy tuwan pabrik sêpatu saking Australie kanthi ingkang èstri punapadene anakipun jalêr èstri 2 dhatêng ing Surabaya numpak motoripun mabur piyambak. Sontênipun malih wontên tiyang golonganipun dhatêng saking Bali. Salajêngipun golongan wau bidhal dhatêng Bêtawi, Singapura, salajêngipun dhatêng Hongkong. Benjing sawangsulipun kèndêl wontên ing tanah Jawi ragi dangu. Tamtunipun lampahipun wau nindakakên babagan padaganganipun.

Pangkat hoofdschrijver. Wontên wartos, Parentah kaparêng badhe ngawontênakên pangkat hoofdschrijver, tumrap tanah Jawi tuwin Madura badhe wontên 250. Rantamaning waragad wontên f 9500.-. Dene hoofdschrijver wau badhe manggèn ing sabên distrik.

Pasar Gambir 1937. Wiwit sapunika pandamêling griya Pasar Gambir ing Bêtawi ing taun punika sampun dipun wiwiti, waragadipun badhe langkung kathah, amargi langkung agêng tinimbang padatan. Pandamêling Pasar Gambir punika dipun tindakakên dening aannemer Phang Ten Suij tuwin Phang Ceng Yam.

Pambagening bawah ing Banyumas. Wiwit tanggal 1 Juni punika, tumrap Paresidenan Banyumas ingkang kithanipun agêng manggèn ing Purwokêrto, bawahipun kaperang dados 4 distrik, 1 distrik Purwokêrto, ambawahakên ondêr distrik Purwokêrto, Kêbumèn, Kêmbaran, tuwin Sumbang. 2 distrik Banyumas, ambawahakên ondêr distrik Banyumas, Patikraja, Kêbasèn tuwin Sukaraja. 3 distrik Ajibarang ambawahakên ondêr distrik Ajibarang, Legok tuwin Cilongok. Distrik Sumpyuh ambawahakên ondêr dhistrik Sumpyuh, Tambak tuwin Kêmranjèn.

Ingsêr-ingsêran guru. Kawrat kêkancingan saking Gupêrnur Jawi Kilèn, Umang alias Umang Karyasujana, mantri guru ing pamulangan angka kalih ing Sukamandi, dados mantri guru ing pamulangan angka kalih ing bawah Kabupatèn Sumêdang. Sumitradirêja, mantri guru ing pamulangan angka kalih ing Pasirhalang, dados mantri guru ing pamulangan angka kalih ing bawah Kabupatèn Krawang.

Kaundur. Kawrat kêkancingan saking Gupêrnur Jawi Wetan, M. Sukariagung Sanyoto, asistèn wêdana Paresidenan Kêdiri, kaundur saking pangkatipun kanthi hormat, amargi botên nyêkapi wajib.

Manggih sumbêr lisah pèt dêrês. B.P.M. mêntas ngêbur panggenan sacêlakipun Paluh, Têbuhan, sacêlakipun sungapaning lèpèn Bêsitang, ingriku manggih sumbêr lisah pèt, ingkang ing benjing sagêd ngêdalakên lisah 150 ton ing dalêm sadintên. Ing papan ngriku wau inggih sawêg sapisan punika manggih lisah pèt ingkang dipun padosi. Miturut pangintên ing salêbêting siti ingriku taksih wontên klêmpakaning lisah pèt malih, ingkang kintên-kintên ing têmbe sagêd ngêdalakên lisah langkung agêng tumrap laladan ngriku.

--- 751 ---

Listrik ing Madura. Miturut wartos saking parêpatan Provinciale Raad Jawi Wetan, ngusulakên supados pakaryan listrik ing Pamêkasan kapasrahakên dhatêng Aniem. Kajawi punika ugi nêdha mupakatipun Bangkalan tuwin Sumênêp ing bab palilah listrik. Manawi bab punika sampun dipun sayogyani, botên dangu Aniem tumuntên badhe ngawontênakên listrik ing Bangkalan tuwin Sumênêp.

Panyuwunipun gratie Dr. Ratulangi botên kaparêng. Kados ingkang sampun kawartosakên, Dr. Ratulangi sampun karampungan prakawisipun kukum kawan wulan, kanthi dipun kèndêli anggèning dados warga College laminipun tigang taun, makatên ugi botên kenging kapilih dados warga Raad Kawula tuwin warga sanès-sanèsipun ing tanah ngriki laminipun ugi tigang taun, kajawi punika ugi katêtêpakên bayar arta waragad prakawis. Sasampunipun karampungan prakawisipun wau, Dr. Ratulangi gadhah paturan nyuwun pangapuntên dhatêng Kangjêng Tuwan Ingkang Wicaksana, ugi dipun biyantu ing pakêmpalan sanès-sanèsipun. Bab punika sampun wontên dhawuh, panyuwunipun wau botên kaparêngakên.

B.K.P. Hangabèi botên saèstu dhatêng Eropah. Ingajêng sampun nate kawartosakên, bilih B.K.P. Hangabèhi badhe tindak dhatêng Eropah, ananging ing sapunika wontên wartos bilih anggèning badhe tindak dhatêng Eropah wau botên saèstu, ingajêng tindakipun wau karancang wontên wulan Juli ngajêng punika.

Bab nglintokakên arta ringgit, rupiyah tuwin ukon. Kados sampun kasumêrêpan ingakathah, bilih arta ringgit, rupiyah tuwin ukon ingkang dipun damêl ing sadèrèngipun tanggal 1 Januari 1920, kêdah dipun lintokakên, amargi botên badhe pajêng malih. Ing bab nglintokakên arta punika rumiyin katêtêpakên dumugi tanggal 1 Juli 1937. Ing sapunika wontên dhawuh kawrat kêkancingan dalêm Kangjêng Tuwan Ingkang Wicaksana tanggal 4 Juni No. 32, suraosipun aparing kaomberan malih, anggèning nglintokakên kenging ngantos dumugi wêkasaning taun 1937 punika. Sawarnining arta wau kenging kalintokakên dhatêng gêdhong arta nêgari.

Nyirnakakên sêsakit T.B.C. Miturut wartos, ing sapunika tumrap papan ingkang badhe kangge patirahan têtiyang sakit T.B.C. botên pêrlu milih panggenan ingkang inggilipun ngantos 2000 m. dene ingkang pêrlu namung milih papan panggenan ingkang rêsik. Ing sapunika wontên rancangan badhe damêl griya sakit patirahan tumrap tanah Jawi 8 panggenan, tanah Sabrang 2 panggenan, kanthi angsal waragad saking arta panduman ganjaran saking nagari Walandi 25 yuta rupiyah. Tumrap Jawi Wetan badhe dipun êdêgi tigang panggenan. Griya-griya sakit patirahan ingkang sapunika sampun wontên, kados ta ing Pacêt, Gêtasan tuwin Batu, badhe dipun wêwahi griya-griya sacêlakipun ngriku kangge ngupakara tiyang sakit, kadosdene griya pitulungan kanthi dipun wontêni doktêr, bab pangupakaraning griya-griya wau kapasrahakên dhatêng warganing S.C.V.T. ingkang cêlak.

G.P.H. Notoprojo kaparêngakên wangsul dhatêng praja. Awit saking kaparêng dalêm Sampeyan Dalêm Ingkang Sinuhun Kangjêng Sultan ing Ngayogya, G.P.H. Notoprojo anggèning nyuwun wangsul dados pangeran wontên ing ngarsa dalêm sampun kaparêngakên, dipun karsakakên dados rèhipun G.P.H. Mangkukusumo, kalênggahanipun wangsul kados ingkang sampun. Dene garwanipun inggih kaparêng mangangge kadosdene garwa pangeran.

Mosvia ing Magêlang. Lulus examen wêkasan ing Mosvia ing Magêlang, ingkang nêmpuh wontên 28, ingkang lulus 26. Tumrap saking Jawi Kilèn, R. Rochiyat, R. Gajali, R. Sule, R. Sujalmo, M. Anang, R. Suwandi, R. Burdah, R. Husèn, M. Jalil, R. Bidin, tuwin R. Kapiudin. Saking Jawi Têngah, R. Sudarto, R.Ng. Kusumadi, R.M. Waluyo, R.M. Sudarso, R.M. Sudiarto, R. Muhammad Ali, R.B. Muryadi tuwin R. Wadiono. Saking Jawi Wetan, R.P. Karyono, R.M.P. Ciptobujono, M. Sumanto, M. Suhardi, Ramêlan Kosasi, Subagyo tuwin R. Dahmoyo.

R.K.A.M.S. ing Bêtawi. Lulus examen wêkasan ing R.K.A.M.S. Bêtawi, R.B. Suhiyanto, R. Suwondo, tuwin A. Wagiman.

Koning Willem III School ing Bêtawi. Lulus examen wêkasan ing K.W. III School, P.J.H. Bêrhitu, tuwin A.F. Ompi.

P.H.S. (H.B.S. 5 taun) ing Bêtawi. Lulus examen wêkasan ing P.H.S. Nonah Ko Siok Lioe, Lauw Soen Hin, Lie Eng Po, Samiru'ddin.

Pamulangan luhur doktêr. Lulus artsexamen perangan kapisan, tuwan-tuwan I.P. Chattelin tuwin Kho Tjok Hing.

Angsal sêsêbutan Doktor. Angsal sêsêbutan Doktor babagan kasarasan, nyonyah W. de Jonge-Martis kanthi prufschrift "Congenitale syphilis bij Inheemsche en Chineesche Zuigelingen te Batavia" tuwin Tuwan J.P. van der Schruf kanthi prufschrift "Bijdrage tot de kennis der werking van dichloordiaethyl-sulfide (mosterdgas) op de blanke en gepigmenteerde huid."

Carpentier Alting Stichting. Kawrat dhawuh saking Departement Pangajaran tanggal 19 Mèi 1937 No. 1431/B dhatêng Carpentier Alting Stichting ing Bêtawi, kaparêngakên ngêdêgakên H.B.S. wiwit tanggal 1 April 1937 kanthi nama Hoogere Burgerschool met 3-jarige cursus voor Jongens.

Kapitadosan bab tiyang mèlèt. Ing Surabaya tuwin sanès-sanèsipun ing perangan Jawi Wetan wontên wartos ing bab tiyang mèlèt. Bab punika nuwuhakên sêling sêrêp, sabên wontên sabab ingkang ragi nyêngklèng sakêdik kemawon lajêng dados rame. Botên sanès sadaya wau namung lèrèg dhatêng gugon tuhon, ingkang sagêd ugi damêl kapitunan.

Tiyang minggah kaji saya kathah. Kongsi Tiga ing tanah ngriki ngusulakên dhatêng pangagêng ing nagari Walandi, supados nyadhiyani kapal kangge tiyang minggah kaji ing wulan Sèptèmbêr tuwin October ngantos 12 iji. Kala taun kêpêngkêr sadhiyan kapal wau namung 4. Ewadene manawi dipun timbang kalihan jaman nalika taksih sarwa wontên, pinanggih dèrèng timbang, amargi kala samantên kapal wau ngantos 40 iji.

ASIA

Padvinder Tionghoa dhatêng Jamboree. Ing bab badhe wontênipun Jamboree donya ing nagari Walandi, tumrap Tiongkok ugi badhe ngintunakên wêwakil cacah 16, mêndhêt saking provincie 12 panggenan. Padvinder wau badhe dipun pangagêngi dening Chen Chia Lin, warganing Padvindersorganitatie ing Tiongkok.

Copra damêlan. Satunggiling kabudidayan copra ing Ceylon nindakakên cobèn damêl copra pêthak botên sarana kapanggang ngantos pêthak yêktos. Copra kados makatên wau sampun kacobi dipun kintunakên dhatêng London, pinanggih dipun ajêngi dening sudagar-sudagar, ngantos dipun wêwahi rêrêgèn mirunggan. Sakawit tumindaking damêl wau dipun angge wados sangêt, nanging ugi lajêng kêbrèbèl, tuwin kasumêrêpan mayar waragadipun.

EROPA

Jêrman tuwin Italie badhe mlêbêt dhatêng commissie panjagi tata têntrêm malih. Miturut wartos, Jêrman tuwin Italie gadhah sêdya badhe tumut dados commissie panjagi tata têntrêm ing Sêpanyol malih, sêsarêngan kalihan Prancis tuwin Inggris. Bab punika pinanggih adamêl bingahing ngakathah, nandhakakên badhe dados sêsungut sae.

--- 752 ---

Wêwaosan

Saribang

Piridan saking buku karanganipun Baronesse Orczy.

68

Sanalika punika Sopêlin kadosdene kraos manahipun, bilih pambudidayanipun wau badhe tanpa damêl. Sopêlin lajêng enggal-enggal anyêlaki gubug sarwi apitakèn dhatêng para prajuritipun makatên: Genea banjur padha mênêng-mênêng bae.

Salah satunggalipun prajurit amangsuli: Tuwan, kintên kula ing nglêbêt, sampun botên wontên tiyangipun malih.

Kanthi nêpsu sangêt Sopêlin apitakèn sêrêng: Kowe kabèh rak ora sêngaja padha ngluwari wong papat bôngsa darah sing ana ing kene mau. Parentahku mau, Aja nganti ana siji kang bisa oncat. Ayo, rikat, saiki kudu digolèki sing nganti kêtêmu.

Para prajurit miturut punapa prentahipun Sopêlin, sarta lajêng sami nuju dhatêng gisiking sagantên saha sami sumêbar ngupadosi para darah ingkang sami sagêd oncat saking gubug wau.

Kalayan muring-muring Sopêlin wicantên dhatêng kapalaning prajurit makatên: He, sêrsan, gagale prakara iki, ora kêna ora sing kanggo liru iya nyawamu lan nyawane para prajuritmu kabèh kuwi. Salajêngipun kalayan sêrêng wicantên dhatêng Dhèsgas: Mêngkono uga kowe Dhèsgas, iya kudu soroh nyawamu, sabab kowe ora miturut apa prentahku.

Sêmu mangkêl sêrsan amangsuli: Dhawuh panjênêngan dhatêng kula sadaya, supados angêntosi tiyang Inggris ingkang dêdêgipun agêng inggil, ngantos lumêbêtipun ing gubug ngêmpal kalihan tiyang sakawan wau. Ing môngka botên wontên tiyang satunggal-tunggala ingkang dhatêng.

Sopêlin: Ing sadurunge, nalikane wong wadon mau wiwit bêngok-bêngok, aku rak awèh parentah nyang kowe supaya enggal anêmpuh ing gubug aja nganti ana siji kang oncat.

Sêrsan: Inggih. Nanging kintên kula, sadèrèngipun ngriki dumugi ing gubug, tiyang sakawan wau sampun sami miruda.

Sopêlin kalihan nêpsu sangêt: Genea nganti dhapapadha. bisa oncat kabèh.

Sêrsan: Miturut dhawuh panjênêngan, kula sadaya kêdah ngêntosi. Kanthi pangancam, badhe kaukum pêjah, sintên ingkang botên ngèstokakên dhawuh panjênêngan wau. Amila kula sadaya lajêng sami angêntosi. Sadèrèngipun kula sadaya sami andhêlik, kula mirêng têtiyang ingkang sami wontên ing gubug sami brangkangan mêdal saking ngriku, punika dèrèng paja-paja tiyang èstri wau bêngok-bêngok.

Mirêng aturipun sêrsan ingkang makatên punika, saking ngunguning manahipun, Sopêlin lajêng sumlêngêrên, botên sagêd ngucap punapa-punapa.

Ing kala punika Dhèsgas ujug-ujug cariyos makatên: Tuwan kula aturi mirêngakên, punika suwara punapa.

Saking katêbihan ing ngriku kamirêngan suwaraning sanjata mawantu-wantu. Sopêlin nyobi ningali mangandhap turut gisiking sagantên, nanging dumadakan ing wêkdal punika rêmbulanipun mumpêt ing sawingkingipun mega malih, ingkang anjalari piyambakipun botên sagêd sumêrêp punapa-punapa.

Kalayan wel-welan Sopêlin lumajêng nuntên suka prentah makatên: Salah siji kudu enggal lumêbu ing gubug, nyumêda diyan.

Sêrsan enggal-enggal lumêtlumêbêt. ing gubug, nyumêd dilah ingkang gumlethak wontên ing ngriku, sarta lajêng ngobori ing salêbêting gubug wau. Ing ngriku têtela bilih gubug wau sampun suwung.

Sopêlin apitakèn: Kira-kira minggate mau mêtu ngêndi.

Sêrsan amangsuli: Kula botên sagêd matur, tuwan, ing sakawit têrus mêdhak nuju dhatêng sagantên, salajêngipun botên katingal malih, jalaran katutupan ing sela karang ingkang katingal saking ngriki punika.

Sopêlin: He, mênênga dhisik, rungokna, suwara apa kae.

Sopêlin, Dhèsgas, tuwin sêrsan kasêbut nginggil, lajêng sami nilingakên kupingipun. Tiga-tiganipun sami mirêng suwaraning tiyang andhayungi jukung lamat-lamat. Pandhayungipun wau ajêg, nanging rikat. Bokmanawi jalaran saking gêla utawi kêduwungipun, dene kangelanipun wau tanpa damêl, ing ngriku Sopêlin ujug-ujug mêndhêt kacu saking kanthonging jasipun, saha anyrêbèti rai lan gulunipun ingkang ing sêmu andadak kêbak kringêt.

Salajêngipun namung sagêd kawêdal têmbungipun makatên: Hêh... jungkunge... kapal kae.

Kintên-kintên Arman kalihan kancanipun tiga sagêd oncat mêdal ing sapinggiripun sela karang. Ing wêkdal punika para prajuritipun Sopêlin, ingkang kulina namung manut prentah, langkung-langkung sabab ajrih dhatêng ukum pêjah, inggih lajêng namung manut miturut punapa prentahing pangagêngipun, inggih punika: ngêmungakên ngêntosi bôngsa Inggris ingkang dêdêg-piadêgipun agêng inggil. Sabab tumrap Sopêlin, manawi sagêd kalampahan nyêpêng tiyang Inggris wau, punika satunggiling pandamêl ingkang luhur sangêt. Badhe kasambêtan.

--- 89 ---

Nomêr 23, taun II

Jagading Wanita

Lampiran Kajawèn, juru pangripta: Rr. Siti Mariyam, kawêdalakên sabên Rêbo

Urun Udhu Wawasan Ajênging Jaman Modhèrên

Sambêtipun Taman Bocah ing Kajawèn nomêr 46.

Mila wawasan kula (tiyang cap kolot) para kadang kula wanita mudha ingkang sami anggêbyur ing kamardikaning sêsrawungan cara modhèrên wau, inggih agêng sangêt pigunanipun ingatasing jaman sapunika, awit nama manggèn wontên ing jamanipun, waton ingkang kajibah dados sêpuh sampun ngantos weya, kêdah ingkang prayitna dhatêng panjagining putra èstri ingkang sawêg nêdhêng-nêdhêngipun têmêmbirang lan kasêngsêm dhatêng jaman lan sêsrawungan cara enggal wau, awit sadaya tumindak ingkang kinanthèn kaprayitnan punika ngadat kalis ing sambekala. Dados ingkang sêpuh nama têtêp sêpuhipun, tur malih lajêng nama tiyang sêpuh moncèr, têgêsipun tiyang sêpuh ingkang waspada dhatêng kawontênaning jaman, lan botên badhe ngalang-alangi ajênging jaman, malah sasagêd-sagêd kaudi sagêda putranipun wau nêtêpi kasusilaning wanita bôngsa kula ingkang salaras kalihan ajênging jaman. Awit yèn kula para wanita mudha ngantos botên sagêd nututi ajênging jaman, sanajan dumugi benjing bujading jaman mêsthi namung badhe dados babu alias abdi têrus-têrusan. Hla, tiyang sawêg dados babu limrah kemawon sampun rêkaos kang nala, têka lajêng dados babuning semah, hla inggih rêkaos rete-rete saèstu, awit kapêksa dhisiplin, punapa-punapa namung sarwa sak: nun inggih kangmas, wadhuh, olèhe aaalus kaya Bakyu Petruk (nuwun sewu lo bakyu).

Mangsuli atur kula ing ngajêng, kados panjênêngan sadaya botên kêkilapan tumanduking tiyang sêpuh dhatêng putra ingatasipun jaman samangke, ingkang nêtêpi bêbasan, kêbo nusu gudèl. Ananging sanajan jaman sapunika nêtêpi bêbasan wau, awonipun punapa ta tiyang sêpuh tansah pasang kaprayitnan dhatêng panjagining putra wanita ingkang sawêg nêdhêng-nêdhêngipun tumambirang lan kasêngsêm dhatêng sêsrawungan gagrag enggal, awit wataking kênya ingkang sawêg nêdhêng-nêdhêngipun makatên wau, sênajan bêbasan wètênsêkapipun sundhul ing ngawiyat, kadhangkawis sok sêpi ing kaprayitnan, kabêkta saking kasêngsêming panggalih.

Para nupiksa, kados samantên rumiyin atur

--- 90 ---

kula prakawis anggèn kula ngaturi urun wudhu bab ajênging jaman modhèrên wau, awit saking punika kula matur gênging panuwun dhumatêng panjênênganipun sadhèrèk Rara Sri Mariyah ingkang sampun karsa paring ular-ular prakawis wau. Makatên ugi saking panyuwun kula mugi-mugi kenginga kagêm panglimbang panggalih tumrap para sêpuh ingkang kagungan rêksan putra wanita ingkang sawêg nêdhêng-nêdhêngipun kasêngsêm dhatêng prakawis wau, awit manawi sami karsa manggalih saèstu botên sakêdhik pigunanipun, jêr asor ungguling satunggal-satunggaling bôngsa wontên ing wanita.

Matur nuwun. Bok S. Wir, Rêmbang.

Panyuraos

Sambêtipun Jagading Wanita Kajawèn nomêr 46.

Para sadhèrèk, mugi sami kanguningana,kauningana. sintên ingkang ngandêl dhatêng piandêl ing gugon-tuhon, ingkang botên kanthi pamikir panjang, lan botên dipun nyatakakên rumiyin ing salêrêsipun, lan botên amigatosakên dhatêng katrangan ingkang sampurna, utawi sarana sabab-sabab ingkang maton, lan namung ngandêl kemawon, manawi makatên, kenging kawastanan tiyang bodho, lumuh ulah pikiran lan lumuh nindakakên ngakal budinipun.

Kula asring sangêt mirêng tiyang wicantên makatên: aja adus ana ing kali kono, iku panggonan angkêr, utawi singit, mêngko kowe mundhak lara. Sanyatanipun inggih wontên lêrêsipun, ananging manawi kamanah panjang, kok inggih lêpat sangêt lan botên wontên prêlunipun. Lah inggih singit punika punapa, sarta kadospundi wardinipun, kok botên wontên wujudipun. Dados sintêna ingkang mungêl kados ing nginggil wau, tiyang wau kenging dipun wastani tanpa pinikir lan inggih botên purun mikir.

Prayoginipun sadaya sadhèrèk sampun ngandêl dhatêng satunggiling prakawis ingkang anèh utawi tanpa damêl. Ing sadèrèngipun prayogi anindakna pamanggih lan ngakal budinipun rumiyin, prêlu kangge ngudi murih sagêd sumêrêp dhatêng kaanan wau ing sajatosipun, lan lajêng katimbang: kadospundi pinanggihipun piandêl punika.

Piandêl ingkang tanpa damêl punika kados pêpindhanipun sela agêng ingkang malang wontên ing margi, angalang-alangi dhatêng têtiyang ingkang badhe langkung, punapadene angaling-alingi dhatêng kaanan ingkang badhe dipun sêdya. Dados mênggahing tiyang ingkang nêdya ngambah margi padhang, wajib nyingkirakên utawi ambucal sela wau rumiyin, manawi sampun sagêd anyingkirakên utawi ambucal sela ingkang ngalang-alangi wau badhe sakeca lampahipun, sagêd lajêng sarta lêstantun tanpa sandhungan.

Kados sampun cêkap samantên. Manawi wontên lêpatipun andharan punika, mugi-mugi para nupiksa kaparênga paring sih pangapuntên.

Surtinah.

Gêdhongan Majakêrta.

--- 91 ---

Panganggenipun (Sandhanganipun) Tiyang Sakit

Sambêtipun Jagading Wanita Kajawèn nomêr 46.

Anggènipun anggirah wongsal-wangsul sampun ngantos wontên sabun ingkang kantun ing pangangge, awit punika murugakên gatêl dhatêng kulit, sêsakit kulit punika gampil nular utawi sumrambahipun. Mila prayogi manawi sabên tiyang punika anggadhahi andhuk piyambak. Tumrapipun lare sok dipun damêl gampil, inggih punika ngangge andhukipun tiyang utawi lare sanès. Ingkang punika sampun ngantos dados padatan utawi pakulinan, awit tumularing sêsakit punika gampil sangêt. Makatên ugi panganggenipun sabun prayogi piyambak-piyambak, sampun ngantos kalinta-kalintu.

Minôngka sambêtanipun wawasan bab panganggening tiyang sakit, kula badhe matur sakêdhik, bab sadhiyanipun kangge tiyang sakit.

Ing padatan tiyang sakit punika botên kongang ngadêg utawi mlampah. Kangge turas prayoginipun dipun cêpaki steekpan (pot gèpèng) mawi tutup. Manawi pot gèpèng wau sampun kangge, sanalika rêrêgêdipun kabucala, lan pot wau dipun rêsiki mawi karbol. Trêkadhang sok wontên ingkang ngangge bril (kothak pot) ingkang wangunipun pêsagi, mawi tutup. Kothak punika inggih prayogi, ugêripun pot ingkang kadèkèk ing nglêbêt kothak wontên tutupipun, ingkang asring kothak pot wau plituran. Manawi badhe yasa enggal prayogi mêndhêta cèt pêthak katimbang plitur. Awit plitur punika manawi kêtêlêsên kenging toya lajêng andalêmok pêthak. Dene cèt pêthak punika gampil rêsik-rêsikanipun, tur manawi rêgêd ngatawisi, wusana lajêng enggal dipun rêsiki. Punapa malih sawanganipun katingal sumêblak. Manawi kasêmbadan, sabên tiyang èstri ingkang kajibah ngrêksa bale griya gadhah rayat kathah, prayoni gadhah sadhiyan kothak pot, punapadene pot gèpèng. Dados manawi wontên kaprêluan botên susah glothakan dhatêng tôngga têpalih. Upamia nyambut, inggih namung manggih pakèwêd kemawon. Sabab mangke gèk wontên risakipun, mangke gèk anggènipun angrêsiki kirang sampurna.

[Grafik]

Rara Siti Mariyam.

Kangge lèmèk kasur manawi pinuju wontên tiyang sakit sagêd mêndhêt pêrlak utawi hospitaallinnen (pêrlak karèt), pêrlak limrah punika mirah, nanging inggih enggal risak, thèthèl, bolong. Dene ingkang dipun wastani hospitaallinnen punika pêrlak karèt ingkang ing ngandhap nginggil (jawi lêbêt) sami kemawon warninipun. Punapa malih dangu sagêdipun thèthèl, lapisanipun ugi karèt,

--- 92 ---

lan lêmês manawi dipun angge, tur gampil rêsik-rêsikanipun.

Sadhiyan nêdha lan ngombe kangge tiyang sakit punika prayogi samurwatipun, sampun kêkathahên. Sadaya têtêdhan lan ombèn-ombèn dipun tutupi, sampun ngantos kencokan gêgrêmêtan utawi lalêr.

Siti Mariyam.

Olah-olahan

Cabuk Rambak.

Cabuk rambak kupat punika sêsadeanipun sadhèrèk ing padhusunan, nanging sami dados krêsanipun para luhur ing Surakarta, amargi pancèn miraos sayêktos. Wontên ugi sawatawis para luhur ingkang kagungan damêl kalihan calimèn: sêgahipun cabuk rambak kupat, katingal èdi lan pèni. Namung dipun wêwahi abên: blêgudhêg manggar, ulamipun ayam. Pangolahipun makatên:

Kupat, botên katêrangakên, amargi sampun kêlimrah kathah ingkang uninga.

Wijèn ingkang sampun kaklècèp ngantos pêthak, lan sasampunipun kapususan rêsik, lajêng kadhêplok ingkang ngantos lêmbat kadosdene yèn damêl sambêl pêcêl, tumuntên andhêploka racikan sambêlipun, lombok rawit, botên kenging kauworan lombok agêng, sarêm, bawang, traos namung kangge nyolok, yèn sambêl wau sampun lêmbat, lajêng kauworana dhêplokan wijèn ingkang sampun lêmbat wau, tumuntên kadhêploka malih ingkang ngantos sagêd mrasuk nunggil dados satunggal wijèn lan sambêlipun, lajêng kacampurana rajangan pradapaning jêram purut ingkang sampun karajang alus, panyampuripun srana ugi kadhêplok nanging namung ukur-ukur kemawon. Pandhaharipun, kupat kabêlèk megos urut pojok, nuntên kairis-irisa kêpara kandêl sawatawis, lajêng katata ing pincuk utawi piring, tumpang tindhihipun namung kapêndhêt abên manis, murih sambêlipun sagêd wradin. Sambêl lajêng kaêjurana ing wedang ayam, pangêjèripun kaangkaha kêpara ragi kênthêl. Sambêl lajêng kacidhukana kadèkèk ing irisan kupat ingkang ngantos waradin, lan prayogi ingkang ragi kaduk sambêl, lajêng kadekekan rambak ingkang sampun kakêthok-kêthok ingkang panjang, satunggal kadadaosna tiga-sakawan. Utaminipun anggêr saajêng mawi kawêwahana sambêl-sambêlipun akas sawatawis. Pandhaharipun sarana kasundêp ing biting utawi porok. Mênggahing takêran abênaning bumbu: cêkap namung kakintên-kintên saprayoginipun ingkang sami bodhe ngolah piyambak-piyambak. Badhe kasambêtan.

Nyai Pranata.

--- [0] ---

[Iklan]

--- [0] ---

[Iklan]