/sastra/katalog/judul/judul.inx.php
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050
Katalog #:1050
Jumlah kata:127.773
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050: Citra 1 dari 8
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050: Citra 2 dari 8
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050: Citra 3 dari 8
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050: Citra 4 dari 8
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050: Citra 5 dari 8
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050: Citra 6 dari 8
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050: Citra 7 dari 8
Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050: Citra 8 dari 8
Koleksi :
1. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 01–11). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 15.225. Berapa kali dibuka: 230.
2. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 12–18). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 15.669. Berapa kali dibuka: 69.
3. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 19–25). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 15.847. Berapa kali dibuka: 69.
4. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 26–31). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 15.445. Berapa kali dibuka: 64.
5. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 32–39). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 14.168. Berapa kali dibuka: 58.
6. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 40–45). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 15.954. Berapa kali dibuka: 61.
7. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 46–56). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 13.609. Berapa kali dibuka: 65.
8. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 57–58). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 13.602. Berapa kali dibuka: 61.
9. Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050 (Pupuh 59–64). Kategori: Kisah, Cerita dan Kronikal > Babad. Tanggal diunggah: 4-Mar-2026. Jumlah kata: 8.254. Berapa kali dibuka: 63.
» Babad Purubaya, British Library (Add MS 12308 a), 1813, #1050. Pangkalan-data > Tembang macapat.
Memuat :
Ikhtisar :
Naskah awal abad ke-19 ini merupakan babad berbahasa Jawa yang ditulis dalam bentuk tembang macapat, memuat kisah asal-usul tanah Jawa hingga perkembangan kerajaan-kerajaan yang kemudian berujung pada munculnya Mataram pada akhir abad ke-16.

Kronik ini diawali dengan silsilah yang menelusuri garis keturunan dari Nabi Adam hingga para penguasa awal di tanah Jawa. Pulau Jawa digambarkan sebagai wilayah yang masih kosong dan dihuni oleh makhluk halus hingga Sultan Rum menerima perintah untuk mengirimkan ekspedisi guna memukimkannya. Setelah beberapa usaha awal gagal, suatu ekspedisi terakhir menanamkan azimat di pegunungan. Makhluk-makhluk halus kemudian menyingkir, pemukiman berkembang, dan patih Sultan tersebut menetap di Jawa, dari siapa para penguasa berikutnya diturunkan.

Kerajaan-kerajaan kemudian muncul secara berurutan. Di antaranya adalah Mêdhang Kamolan yang diperintah oleh Raja Sindhula, diikuti oleh Dewata Cêngkar, yang kekuasaannya berakhir ketika Ajisaka (Prabu Jaka) mengalahkannya dan mengambil alih pemerintahan. Kronik ini memuat suatu siklus Ajisaka yang cukup terperinci, termasuk kisah Dora dan Sêmbada serta asal-usul aksara Carakan (aksara Jawa), disertai berbagai peristiwa yang berkaitan dengan pergantian kekuasaan serta episode penarikan diri dan kemunculan kembali.

Kisah selanjutnya beralih pada munculnya Sri Banjaransari. Suatu gangguan yang bersifat gaib menimpa negeri sebelum kekuatan-kekuatan tersebut kemudian mereda. Konflik antara pihak Banjaransari dan Galuh diikuti oleh perdamaian, persekutuan melalui perkawinan, dan penobatan. Peperangan kemudian kembali terjadi di berbagai wilayah, melibatkan pasukan manusia maupun kekuatan gaib. Setelah memperoleh kemenangan, Banjaransari memegang kekuasaan sebagai raja dan memulihkan ketertiban. Bagian ini diakhiri dengan penyebutan Sang Raja Siyungwênara sebagai ahli waris.

Kisah kemudian beralih ke Majapahit, Palembang, dan Tuban. Jaka Dilah memasuki Majapahit dan diangkat sebagai Arya Damar, yang kemudian dikirim bersama seorang putri untuk memerintah di Palembang. Kisah selanjutnya memuat berbagai peristiwa yang berkaitan dengan tuduhan dan pergantian kekuasaan, termasuk penempaan dan perpindahan keris pusaka Kyai Sangkêlat. Kisah lain secara paralel menceritakan penempaan keris Tilam Upèh oleh Ki Sura, pengakuannya di Tuban, serta penerimaannya di Majapahit. Narasi ini juga memperkenalkan Radèn Patah dan Radèn Usèn (Dipati Têrung), serta memuat kisah yang berkaitan dengan Sunan Ngampèl, di samping kisah genealogis dan devosional mengenai Jaka Tarub dan Dèwi Nawangwulan, Radèn Said (Sunan Kalijaga), serta Ki Kêrèbèt.

Kisah selanjutnya bergerak ke berbagai kerajaan pada masa berikutnya. Pajajaran dikaitkan dengan para penguasa termasuk Prabu Siliwangi, sementara perkembangan di Majapahit mengarah pada berdirinya Demak di bawah Radèn Patah. Konflik selanjutnya menghasilkan munculnya Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Sultan Hadiwijaya kemudian memberikan wilayah Mataram kepada Ki Agêng (Kyai Gêdhe) Pamanahan setelah kekalahan Arya Penangsang dari Jipang. Ki Agêng Pamanahan menetap di Mataram, dan putranya Sutawijaya, yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Senapati Ingalaga, menjadi tokoh penting dalam peristiwa berikutnya. Setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya, perselisihan suksesi melibatkan Pangeran Bênawa dan Adipati Demak. Konflik kemudian terjadi antara pihak Pajang dan Mataram. Pangeran Bênawa akhirnya melepaskan tuntutannya dan mengakui Panembahan Senapati Ingalaga sebagai penguasa.

Kronik ini diakhiri dengan diperkenalkannya tokoh Radèn Umbaran, yang dibesarkan di sebuah pertapaan dan ditandai oleh tanda-tanda keistimewaan sejak kelahirannya. Setelah mencapai usia dewasa, ia menuju ke Mataram dan menunggu di bawah pohon istana untuk memperoleh pengakuan.
Naskah Babad Purubaya terdiri atas 64 pupuh dengan jumlah keseluruhan 4.109 bait, 31.813 gatra, dan sekitar 115.060 kata. Dalam naskah ini dapat dikenali lebih dari satu jenis tulisan tangan. Pada pupuh ke-35 (Pocung), guru lagu untuk gatra ketiga pada seluruh 86 bait menggunakan vokal "o", bukan "i" sebagaimana lazimnya dalam metrum macapat Pocung.

Menurut kolofon pada bagian awal naskah terdapat sêngkalan "nir samodra imawaning rat" yang menunjukkan tahun AJ 1740 (4 Januari 1813 – 24 Desember 1813). Namun mulai pupuh ke-5 hingga pupuh terakhir terdapat keterangan waktu penulisan pada masing-masing pupuh yang menunjukkan tahun AJ 1736 hingga AJ 1738 (sekitar 1809–11). Dengan demikian terdapat selisih sekitar empat tahun antara tahun pada kolofon pembuka dan tahun-tahun yang tercantum dalam keterangan pada beberapa pupuh. Pada bagian akhir naskah juga terdapat lembar lepas berisi Parentah Bab Dhuwit Pasar yang bertanggal 12 Januari 1814.

Pada bagian pembuka naskah tercantum keterangan bahwa teks ini merupakan "babad wiwit suwunging tanah Jawi dumugi babaripun Kanjêng Panêmbahan Purubaya yasa Mangkubumèn ing Ngayogyakarta Adiningrat," yang menunjukkan keterkaitan teks ini dengan lingkungan keraton Ngayogyakarta Adiningrat (lihat: Ricklefs 1974, hlm. 242, nt. 44).

Dalam bagian yang tersisa dalam naskah ini tokoh Panêmbahan Purubaya tidak disebutkan secara langsung. Naskah berakhir dengan pengenalan tokoh Radèn Umbaran yang digambarkan menantikan pengakuan di Mataram. Hubungan antara tokoh ini dengan keterangan pembuka mengenai Panêmbahan Purubaya tidak dijelaskan secara eksplisit dalam teks.

Deskripsi

Judul
Tipe:Naskah
Bentuk:Tembang
Bahasa:Jawa
Aksara:Jawa
Penyusun
Tanggal:AJ 1740 (1813)
Jilid
Halaman:420 (210 folios).
Sumber
Katalog:British Library Add MS 12308 Digital
Ukuran:34 x 23.5 cm., 20 baris per halaman.
Kertas:Jawa. Lihat deskripsi di: Ricklefs et al., 1977, hlm. 48.
Penomoran:460 faksimili digital: ff. 1–214 (+ duplikasi) + f. blef + f. brig + f. bspi + ff. s1–s6 + ff. se7–se13.
Digitalisasi
Tanggal:2024-10-20
Sumber dari:British Library Add MS 12308 Digital
Pemindaian:British Library
Pengalih­aksaraan:Yayasan Sastra Lestari
Pengetikan:Yayasan Sastra Lestari