/sastra/katalog/judul/judul.inx.php
Sêrat Kyahi Gulang Yarya, Rêksa Pustaka (MS. A 21), 1870, #1718
Katalog #:1718
Jumlah kata:7.738
Sêrat Kyahi Gulang Yarya, Rêksa Pustaka (MS. A 21), 1870, #1718: Citra 1 dari 4
Sêrat Kyahi Gulang Yarya, Rêksa Pustaka (MS. A 21), 1870, #1718: Citra 2 dari 4
Sêrat Kyahi Gulang Yarya, Rêksa Pustaka (MS. A 21), 1870, #1718: Citra 3 dari 4
Sêrat Kyahi Gulang Yarya, Rêksa Pustaka (MS. A 21), 1870, #1718: Citra 4 dari 4
Koleksi :
1. Sêrat Kyahi Gulang Yarya, Rêksa Pustaka (MS. A 21), 1870, #1718. Kategori: Bahasa dan Budaya > Karawitan. Tanggal diunggah: 7-Mar-2026. Jumlah kata: 7.738. Berapa kali dibuka: 197.
» Sêrat Kyahi Gulang Yarya, Rêksa Pustaka (MS. A 21), 1870, #1718. Pangkalan-data > Tembang macapat.
Ikhtisar :
Naskah ini ditulis oleh Raden Mas Arya Tondhakusuma, seorang seniman panggung dan koreografer terkemuka pada masanya. Ia adalah menantu Mangkunegara IV (bertakhta 1853–81). Nama penulis tercantum dalam bentuk sandi asma pada bait pertama setiap pupuh, dengan beberapa variasi bentuk untuk menyesuaikan jumlah gatra dalam setiap bait pembuka. Karya ini luar biasa dalam hal penguasaan bahasa, keterampilan puitik, keluasan pengetahuan budaya, khususnya karawitan, serta kedalaman makna spiritual yang saling menyertai setiap unsur tersebut.

Gulang Yarya bukan hanya nama tokoh naratif dalam naskah ini, melainkan juga sebuah ungkapan yang berarti proses belajar (gulang "belajar"; yarya "ketika, saat"). Dalam konteks ini, frasa tersebut merujuk pada saat Kyahi Gulang Yarya berdialog dengan abdinya, Sêtu, dalam proses mempelajari seni, khususnya musikologi, gamelan, dan berbagai bentuk kesenian Jawa lainnya yang disampaikan melalui bentuk têmbang (sêkar) macapat. Melalui tanya-jawab yang dituturkan dengan penuh kesantunan, naskah ini menguraikan dasar-dasar mistik dalam gamelan dan gitaswara, dengan menekankan pentingnya upaya penyempurnaan (marsudi wahyaning wadi) dan kepekaan terhadap sêmu dalam bunyi maupun perilaku. Alih-alih mengikuti alur cerita yang linear, naskah ini menyajikan rangkaian refleksi filosofis, klasifikasi teknis, tradisi kepujanggan, serta ajaran etika yang membentuk pandangan yang luas dan berlapis tentang seni dan kehidupan moral Jawa.

Di bagian utama, naskah ini memaparkan pengetahuan mengenai struktur gamelan, termasuk susunan gêndhing, perincian pathêt, serta hubungan antara cêngkok, lagu, dan irama dalam membentuk ekspresi musikal. Bersamaan dengan itu, Kyahi Gulang Yarya menguraikan dunia têmbang dan têmbung, dengan memperkenalkan klasifikasi tradisional seperti têmbang agêng, têmbang têngahan, dan têmbang macapat, sekaligus menggambarkan dinamika percampuran antara bahasa ngoko dan krama dalam praktik penggunaan sehari-hari. Naskah ini juga membahas perwujudan karakter melalui bentuk ringgit (baik wayang kulit maupun wayang wong), khususnya bagaimana representasi fisik (wănda, pasêmon) mencerminkan kualitas moral dan emosi batin. Sepanjang uraian, prinsip trapsila, yakni penghalusan etika dalam ucapan, gerak, dan tindakan, menjadi benang merah yang menyatukan keseluruhan ajaran.

Setelah memaparkan struktur dan ekspresi musikal, naskah ini beralih kepada asal-usul ilahiah karawitan, dengan merujuk kepada Hyang Bathara Guru atau Sang Hyang Jagadnata sebagai pencipta awal gitama dan instrumen gamelan. Tradisi têmbang macapat dikaji secara historis, dengan menyebut sejumlah tokoh penting seperti Pakubuwana III, Pakubuwana IV, Pangeran Arya Kusumadilaga, Mangkunagara IV, serta C.F. Winter dan para pujangga seperti Yasadipura II dan Ranggawarsita. Sejumlah jenis têmbang dan gêndhing disusun secara sistematis, menunjukkan kompleksitas dan keluasan taksonomi musikal dalam tradisi Jawa.

Selain menekankan struktur musikal, bagian ini menyoroti sosok Panji Asmarabangun sebagai teladan kesempurnaan artistik dan spiritual. Panji digambarkan tidak hanya sebagai prajurit unggul, tetapi juga sebagai seniman halus dan pencipta gamelan, yang mencerminkan perpaduan etika, kepekaan estetik, dan keselarasan dengan wahyu ilahi. Inovasi musikal yang dipelopori Panji dikisahkan menyebar jauh melampaui Jênggala, namun ditegaskan bahwa keunggulan semacam itu tidak dapat sepenuhnya direplikasi tanpa keselarasan spiritual. Panji dikenang sebagai sosok kalokèng rat (ketenaran universal) yang menginspirasi nilai-nilai kebijaksanaan, keadilan, dan kehalusan estetika, bahkan hingga tanah sabrang.

Naskah ini juga menelusuri perkembangan seni dalam konteks Islam, termasuk peran Wali Sanga, tradisi sakatèn, dan kelahiran wayang bèbèr sebagai media dakwah sekaligus ekspresi visual berbasis lokal. Tradisi ringgit mengalami perluasan bentuk dan fungsi melalui tokoh seperti Pangeran Karanggayam, yang memperkenalkan ragam baru seperti ringgit gêdhog, topèng, dan talèdhèk, serta membina hubungan erat antara patronase budaya dan kreativitas istana. Masa pemerintahan Pakubuwana IV dan para penerusnya ditandai dengan upaya sistematis dalam mengembangkan seni wayang wong, têmbang, dan gamelan hingga tingkat paling rinci, memperlihatkan revitalisasi budaya yang terstruktur dan berkelanjutan.

Gulang Yarya merefleksikan pentingnya pewarisan ilham musikal sebagai pusaka loka nata, sebuah warisan sakral yang hanya dapat dilanjutkan melalui ketekunan, kerendahan hati, dan keselarasan spiritual. Dengan demikian, kehalusan seni Jawa dipahami bukan semata sebagai hasil penguasaan teknik, melainkan sebagai buah dari perpaduan etika, rasa, dan wahyu.

Pupuh penutup kembali ditulis dalam metrum Maskumambang sebagai pelengkap atas Pupuh 8 yang dirasa belum sepenuhnya memadai, khususnya terkait uraian mengenai keterlibatan para dewa dalam penciptaan gamelan. Untuk memperluas pembahasan tersebut, ditambahkan tujuh bait tambahan (bait 47–53), sehingga total bait dalam pupuh ini bertambah dari 54 menjadi 61.

Naskah ini terdiri atas 12 pupuh, 367 bait, 2.080 gatra, dan total 7.292 kata, meskipun pupuh terakhir merupakan pengulangan dari pupuh ke-8 (Maskumambang). Untuk deskripsi naskah sejenis, lihat LOr 6516 (Pigeaud 1968, Vol. 2, hlm. 387). Bagian Pupuh 2 (Kinanthi), bait 2–8, yang menggambarkan secara puitik warna bunyi dan peran masing-masing instrumen gamelan, pernah diterbitkan oleh Ko-Mo-An, seorang pedagang Tionghoa dari Yogyakarta, dalam Javaansche "Gamělan-Beschrijving" in Poëzie, Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1897 (3), hlm. 508–9.

Deskripsi

Judul
Tipe:Naskah
Bentuk:Tembang
Bahasa:Jawa
Aksara:Jawa
Penyusun
Peran:Pengarang
Nama:Raden Mas Arya Tondhakusuma
Tanggal:Sêtu Kliwon [sic] 6 Rêjêb Dal AJ 1799 (Sabtu 1 Oktober 1870)
Jilid
Halaman:36
Sumber
Katalog:Rêksa Pustaka (Mangkunagara, Surakarta) MS. A 21 (SMP No. 618) Digital
Ukuran:20 x 32,8 cm.
Kertas:Concordia Res Parvae Crescunt—VDL.
Digitalisasi
Tanggal:2025-05-09
Pengalih­aksaraan:Yayasan Sastra Lestari
Pengetikan:Yayasan Sastra Lestari