Sastra Lestari: Profil


Siapa kami | Yang kami lakukan | Awak kami | Di mana kami | Apa ke depan?


Vorstenlanden, wilayah kekuasaan penerus Wangsa Mataram Islam di selingkup Surakarta-Yogyakarta, sudah kondang punya museum-museum bagus. Museum yang lahir pada sepanjang masa gemilang renaisans bahasa, sastra, dan budaya Jawa (abad ke-19 hingga awal abad ke-20) tersebut diinisiasi oleh, dan dibangun di masing-masing, "Catur Sagatra" (empat keraton) dengan distimulasi unsur sarjana pemerintah kolonial.

Selain benda-benda arkeologi, keraton vorstenlanden dan pemerintah kolonial juga menyelamatkan, memiliki, serta merawat koleksi naskah kuno. Koleksi itu utamanya sudah ditetapkan sebagai harta warisan oleh masing-masing istana dan oleh sarjana/kolektor kolonial diamankan sebagai produk sejarah dari koloninya.

Mengapa

Setidaknya pada kurun 1980-an, naskah atau manuskrip kuno Nusantara, khususnya yang Jawa baru klasik, mudah ditemukan atau beredar di sejumlah sudut kota. Di Yogyakarta dan Surakarta, misalnya, barang langka itu umumnya dijajakan di sejumlah kios buku bekas atau toko barang antik. Beberapa juga dimiliki secara eksklusif oleh perorangan dan instansi.

Sastra Lestari: Profil: Citra 1 dari 5
Ini naskah anggitan Demang Warsapradhangga. Tarikhnya 1897. Abdi dalem niyaga Kepatihan itu mencatat not-not angka gending Surakarta secara cermat dengan maksud, "agar jadi pengingat-ingat buat selamanya dan tak bisa punah". Ironisnya, sebad kemudian, naskah itu malah jadi onggokan dalam peti kayu tua di sebuah toko barang antik: semata sebagai alas peti! Hal-hal semacam inilah yang mendorong lahirnya Sastra Lestari.

Dokumentasi seni-budaya, sejarah, dan pengetahuan, adalah harta bangsa yang tinggi nilainya. Tapi sayang, yang raib, tiada terbilang. Jika pun ada, rata-rata kurang terawat. Jadi, kalau ada yang mendapatkan naskah dalam kondisi masih bagus dan utuh, mujur sekali. Kala itu, minat baca dan menelaah naskah tengah bersemi.

Di luar museum milik Catur Sagatra dan perpustakaan pemerintah kolonial, naskah yang beredar dipercaya jauh lebih banyak lagi; berbanding terbalik dengan jumlah penyelamatnya. Selain museum dan perpustakaan, bisa dikata saat itu ada semacam "kekosongan pelaku" penyelamatan naskah. Di sinilah urusan penyelamatan naskah menjadi krusial.

Itu baru satu urusan. Urusan lain yang tak kalah krusialnya adalah, bagaimana memperluas dan mempermudah akses publik yang berminat mengkajinya. Jadi, jauh dari niat untuk memiliki apalagi menjadi bagian dari sindikasi jual-beli naskah, dua urusan itulah yang kemudian coba dijawab secara "sekali dayung" oleh para pionir Sastra Lestari pada akhir 1980.


Siapa kami

Sebagai kata kerja, kiprah Sastra Lestari sudah dimulai pada paruh akhir 1980. Tapi, sebagai kata benda, Sastra Lestari baru eksis sejak 1997, dan resmi berbadan hukum "yayasan" pada 30 November 2010.

Sastra Lestari: Profil: Citra 2 dari 5

Sastra Lestari adalah organisasi nirlaba independen. Berdomisili di Jakarta. Solo menjadi cabangnya. Sejak didirikan, Sastra Lestari telah ambil bagian dalam pemuliaan bahasa dan budaya Indonesia serta aktif dalam pelbagai kegiatan seni, sastra, dan pendidikan. Sastra Lestari menyediakan diri sebagai mitra sekaligus wahana penelitian dan pengembangan seni, sastra, serta pendidikan berbasis khazanah naskah Nusantara.

Waktu telah mengasah pengalaman, arah, dan orientasi Sastra Lestari. Setidaknya, untuk hari ini, bolehlah disampaikan bahwa:

Sastra Lestari mendedikasikan dirinya sebagai salah satu sumber digital terpercaya tempat data-data primer naskah Nusantara dapat dibaca, ditelusuri, serta dikaji secara mahardika oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun melalui sistem pengelolaan pengetahuan: sastra.org.

Sastra.org pertama kali diluncurkan pada tahun 2002 sebagai perpustakaan maya tempat hasil program digitalisasi Sastra Lestari dapat diakses oleh kalangan luas. Kemudian, dengan basis-data yang terus bertambah, sastra.org menempuh langkah-langkah berkesinambungan yang diiringi peningkatan layanan.


Yang kami lakukan

Kerja Sastra Lestari pada dasarnya bertumpu pada dua pekerjaan sederhana: alih-aksara dan alih-media. Setelah didigitalisasi dan diproses, hasilnya ditampilkan di perpustakaan maya Sastra Lestari : sastra.org. Dengan demikian, sastra.org menjadi kanal penyebarluasan hasil kerja Sastra Lestari.

Sastra Lestari tiada kenal lelah berbenah meningkatkan layanan, terutama dengan melengkapi koleksi digital naskah berikut informasi pengetahuannya. Fasilitas yang telah ada pun terus disempurnakan.

Per Juni 2019, di situs sastra.org, tercatat lebih dari 1.555 naskah/buku langka telah dikatalogkan yang selanjutnya dikemas dan dipajang menjadi 2.348 koleksi teks digital. Tersua 32 sumber kamus (bausastra), sinonim (dasanama), hingga glosari lain, yang padanya 155.261 entri leksikon berhasil dihimpun. Ada pula 14.909 citra yang dibundel dalam 409 galeri. Dari seluruh koleksi tersebut, kini, sekitar 19.4 juta kata telah terjaring.

Pengelolaan teks digital dan informasinya, dalam proses digitalisasi, adalah kegiatan yang tak kalah penting dibanding pekerjaan lainnya. Melalui sastra.org, pelbagai sarana telah dan tengah dikembangkan. Selain untuk menjaga integritas data, pengelolaan server sastra.org beserta basis-datanya dimaksudkan untuk menyediakan akses nirganggu. Ditambah agar sarana pencarian dan lain-lain bisa terus disajikan secara lebih ramah-pengguna (user friendly), pekerjaan tersebut kritikal menyangkut berhasil-tidaknya keseluruhan operasi Sastra Lestari.

Sastra Lestari: Profil: Citra 3 dari 5
Seorang staf Sastra Lestari tengah memeriksa secara cermat tulisan tangan kuno beraksara Jawa dengan bantuan kaca pembesar. Foto: JP/Ganug Nugroho Adi

Dengan demikian, berbeda dengan perpustakaan fisik, Sastra Lestari berfokus pada pengembangan perpustakaan maya/digital. Naskah dan buku langka yang telah didigitalisasi dikembalikan kepada pemiliknya atau disumbangkan kepada wali nasional yang lebih tepat dan lebih berkapasitas menjaganya.

Berjudul-judul koleksi naskah Jawa telah disalin Sastra Lestari. Wujud salinan berupa teks maupun citraan digital. Fokusnya masih pada naskah-naskah Jawa Tengah dan sekitarnya. Tarikhnya meliputi abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20. Penulisan aksaranya ada yang berupa carik (tulisan tangan), ada yang cithak (cetakan). Metrumnya ada yang gancaran (prosa), ada pula yang tembang (puisi).

Hampir seluruh koleksi teranggit dalam aksara Jawa. Sastra Lestari melakukan pengatalogan, pemotretan, pengalihaksaraan ke aksara Latin, dan pengetikan ke dalam basis data. Salinan ditampilkan persis sesuai sumber. Catatan-kaki dibubuhkan sebagai penjelasan bilamana ditemukan hal-hal terkait proses digitalisasi, termasuk ejaan, struktur dan format, pertimbangan kritis maupun halangan dalam membaca naskah aslinya. Penjelasan tentang standar (konvensi) digitalisasi yang digunakan Sastra Lestari dapat ditengok pada laman Panduan Digitalisasi.


Awak kami

Sastra Lestari diampu para personel yang punya kecakapan, jam terbang, dedikasi, serta semangat kerja tinggi pada penyelamatan, pemuliaan, dan penyebarluasan naskah Nusantara. Mereka adalah lulusan terbaik dari perguruan tinggi yang mendukung Sastra Lestari sambil menunggu peluang menjadi pengajar bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Sastra Lestari memfasilitasi mereka sehingga mendapatkan pengalaman, pengetahuan, dan bahan ajar untuk bekal mengajar di masa depan, serta kesempatan untuk berkontribusi pada tujuan pelestarian naskah Sastra Lestari.

Sastra Lestari: Profil: Citra 4 dari 5
Agar alih-aksara bisa optimal, prosesnya dikerjakan secara berpasangan: yang satu membaca, yang lainnya mengetik. Foto: JP/Ganug Nugroho Adi

Dideklarasikan pada 1997, sejak itu, puluhan personel sudah bergabung atau berkarya di Sastra Lestari. Sebagian ada yang masih aktif. Sebagian lagi tetap mendukung keberlangsungan Sastra Lestari kendati sudah berstatus alumni. Lebih dari relasi selayaknya sekumpulan pekerja, di Sastra Lestari, semua awak adalah satu keluarga. Demikian pula semangatnya.

Disusun menurut urut abjad, berikut adalah para awak yang pernah atau sedang berkontribusi kepada perkembangan program digitalisasi Sastra Lestari :

Abdi Utami (Utami), Adi Deswijaya (Adi), Agus Mokamat (Gus), Arih Numboro (Arih), Dian Lestari (Dian), Edward Borland (Ed), Eko Yulianto (Eko), Hayati Budi Utami (Hayati), Helena Budicahyani (Helena), Irma Asrining Cahyorini (Irma), John Paterson (John), Mohamad Taufiq (Taufiq), Mulyanto (Mul), Pradnya Paramita Hapsari (Mita), Prasetyo Adi Wisnu Wibowo (Pras), Riyadi Joko Lelono (Joko), Sahid Teguh Widodo (Sahid), Siswanti (Wanti), Siti Muslifah (Siti), Sri Maryati (Maryati), Supardjo (Mas Bei), Suparmo (Parmo), Suryono (Suryo), Titik Sujiati (Titik), Totok Yasmiran (Totok), Tri Purwanti (Tri), Yohannes Suwanto (Wanto).

Selain awak kami tersebut di atas, ada pula perorangan, sarjana maupun lembaga yang telah dan sedang berkontribusi terhadap program digitalisasi Sastra Lestari. Dukungan dari kalangan yang lebih luas inilah, maka Sastra Lestari dapat berkelanjutan dan terus berkembang dalam upaya penyelamatan, pelestarian dan penyebarluasan karya-karya sastra daerah Nusantara.


Di mana kami

Sejak awal berdiri pada 1997 hingga kini, Sastra Lestari selalu berkantor di griya yang, meski ugahari dan tak begitu luas, cukup membuat penghuninya betah bekerja. Sastra Lestari sudah tiga kali pindah kantor hingga yang sekarang ini, yakni di Kampung Kepabron (1997-2001), Jageran (2001-2011), dan di Priyobadan (2011-sekarang).

Adapun alamat lengkap kantor Sastra Lestari adalah:

Jalan Soka VI/1, Priyobadan
Timuran, Banjarsari
Surakarta - 57131
Indonesia.
Telefon: +62 (0)271 713481
Surel: 

Sastra Lestari berharap para siswa, peneliti, dan masyarakat umum dapat mengunjungi kantor kami ataupun menghubungi kami lewat surel. Meskipun kapasitas dan fasilitas kami terbatas dengan saling mendukung maka sastra daerah Nusantara dapat kita lestarikan dan kembangkan bersama untuk generasi kini maupun mendatang.

Apa ke depan?

Ke depan, Sastra Lestari akan terus berusaha setia pada panggilan tugasnya. Tugas itu adalah, berkejaran dengan waktu menyelamatkan naskah melalui kerja alih-aksara dan alih-media. Kemudian: mengembangkan akses dan sarananya melalui sastra.org.

Seiring dengan itu, Sastra Lestari mulai menata informasi yang telah terhimpun menjadi pengetahuan spesifik. Perlunya, selain mempermudah navigasi koleksi, agar informasi jadi lebih mudah dicerna dan dijelajahi oleh publik, utamanya para peneliti, peserta didik, pelaku seni, serta generasi masa kini.

Sastra Lestari: Profil: Citra 5 dari 5
Sastra Lestari aktif mendekat ke masyarakat agar naskah kuno dan kebermanfaatannya makin dikenal, salah satunya dengan berpameran. Foto: JP/Ganug Nugroho Adi

Sastra Lestari terus menjalin hubungan atau kerja sama dengan segenap institusi/instansi maupun pribadi pemangku kepentingan pelestarian, penyajian, serta pemutakhiran bahasa dan seni-budaya. Mengingat, Sastra Lestari hanyalah salah satu pelaku penyelamatan naskah yang itu pun relatif tidak besar.

Penyelamatan naskah mustahil dilakukan secara swadiri. Dibutuhkan sinergi. Padanya, masing-masing pihak akan dapat saling memperoleh manfaat, memperkuat, hingga mendorong terbitnya ide-ide segar. Contoh, Sastra Lestari telah dan terus mendorong serta membantu akademisi (mahasiswa, dosen, peneliti) untuk melakukan pengkajian.

Naskah adalah samudera tak bertepi, tempat siapa pun bisa berkaca, menjala, hingga memetik kebijaksanaan. Melaluinya, kapan pun dan di mana pun kita dapat melongok kembali; bukan sebagai klangenan, tapi laku menangkap pancaran suasana batin masyarakat dan peri-kehidupan. Apalagi, sebagian besar tema, isu, maupun semangatnya masih relevan hingga kini.

Sastra Lestari menyadari, budaya bukanlah seonggok benda mati. Ia "benda hidup" karena sanggup menghidupkan mutu kehidupan masa kini dan lebih-lebih bagi masa mendatang. Jadi, ia harus dipelihara, ditelaah, dan diuri-uri terus relevansinya.

Berdasarkan semua pemahaman itulah layar ikhtiar Sastra Lestari dibentangkan ...